Sabtu, 15 Agustus 2009

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 24)

Wawasan hal 24

Permohonan yang kemudian memperoleh berkah budi luhur.
Pada awalnya, keinginan hanya sebatas memperoleh penghasilan yang agak baik, agar tidak terlalu menderita dalam menempuh kehidupan sehari-hari.
Sekarang, setelah mengetahui bahwa sujud ini langsung dapat berhubungan dengan Hyang Maha Kuwasa, yang menurutnya dapat memberi apapun yang diminta, lantas mempunyai keinginan yang lebih tinggi atau luhur. Walaupun tidak diminta dengan ucapan, semua yang tersimpan dalam sanubari, mendapat berkah.( Warga Sapta Darma tidak diperkenankan menyebutkan permintaan dalam melakukan sujud ).
Didalam sanubari Pak Arjo hanya ada keinginan untuk menyebarkan perihal sujud ini keseluruh dunia.
Inilah yang hamba sebutkan sebagai permohonan yang kemudian memperoleh berkah budi luhur.
Sekian dulu.


free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 23)

Wawasan hal 23

Kesetaraan dalam hidup.
Wahyu , berdasarkan buku-buku yang hamba baca dan menurut cerita para warga Sapta Darma, berupa perintah atau pengertian dari Hyang Maha Kuwasa. Tetapi yang ditugasi membawa atau mengabarkan berita itu, tak pernah diceritakan. Tak ada yang disembunyikan, tetapi memang tak ada yang menanyakan hal tersebut tatkala Bopo Sri Gutomo masih bersama kita. Oleh sebab itu, peristiwa yang hamba tulis dalam “Kesetaraan dalam hidup” itu, dapat disebutkan sebagai salah satu wahyu, yang memberi pencerahan, bahwa sesama hidup tak ada yang harus disembah. Kita hanya menyembah pada Hyang Maha Kuwasa .


free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 22)

Wawasan hal 22


Melakukan ritual kerohanian
“Ilmu pengetahuan diperoleh dengan ketekunan dalam bersusah payah belajar”. Dalam hal ini para pembaca tentu telah mengetahuinya. Karena itu, walau Pak Arjo adalah orang awam, tidak pernah berguru mencari ilmu kebatinan, tentu mengetahui bahwa semua peristiwa yang telah terjadi itu, harus disertakan sarana ritual tertentu.
Sebelumnya telah diceritakan bahwa ketika bersama mitranya mencari “orang tua”, setiap ada pelajaran baru, Pak Arjo tak mampu melakukan apa yang diajarkan pada hari itu, namun dilain waktu, senantiasa mampu melakukannya. Para mitranya kemudian berpendapat bahwa Pak Arjo telah punya “Guru”, namun siapa, dan dimana tempat tinggalnya. Inilah tujuan pembicaraan ini. Lebih lagi tatkala mengatakan “Aku akan diwejang Guru” pada Pak Kemi (pagi hari sebelum malam penerimaan wahyu sujud). Kesimpulannya, ritual kerohanian yang tak umum dilakukan dengan cara memandang matahari itu tentu atas perintah “Guru”nya.
Para pembaca yang berbudi luhur, hampir setiap orang warga Sapta Darma memastikan bahwa “Guru”nya adalah Hyang Maha Kuwasa. Tak dapat disalahkan, sebab Pak Arjo , sampai dengan wafatnya , tak pernah menceritakan hal ini. Hamba, yang hanya menerima ceritera ini dari para warga, juga memiliki pendapat yang sama.
Selanjutnya, ketika mengikuti penggalian , ada kalimat “terima wasiat dari Hyang Widhi”. (Mohon mengerti yang tersirat dari yang tersurat tersebut)
Ketika itu, hamba hanya menjalankan apa yang ditunjukkan oleh tuntunan penggalian (Pak Mukmin), tanpa bertanya lebih lanjut. Sekarang hamba agak menyesal, kenapa dulu tidak bertanya hal ini (Hyang Widhi). Hamba mengira bahwa Hyang Widhi adalah juga Hyang Maha Kuwasa. Bagaimana menurut pendapat para pembaca sekalian ? Terutama para warga/ tuntunan KSD.


free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 21)

Hyang Maha Kuwasa mengabulkan semua permohonan.

Permohonan yang kemudian memperoleh berkah budi luhur .
Dalam kurun waktu itu, Pak Arjo dan para mitranya, setiap malam selalu melakukan sujud kepada Hyang Maha Kuwasa. Tak tahu apa yang harus dilakukan, kecuali selalu sujud saja setiap malam hari.
Setelah mengerti bahwa semuanya adalah kehendak Hyang Maha Kuwasa, semakin tekun melakukan sujud.
Kembali pada awal tujuan sebelumnya, tentang keinginan ketika itu, tatkala bersama-sama mencari “orang tua” , semua orang memiliki keinginan sama, yaitu agar memperoleh rejeki yang agak cukup. Sekarang, karena yakin bahwa dihadapan adalah Hyang Maha Kuwasa, kemudian masing-masing memiliki keinginan sendiri, berbeda dengan keinginan asebelumnya.
Pak Soma Giman, yang pada waktu itu bekerja sebagai kernet (pembantu sopir) , sekarang memiliki keinginan punya anak yang banyak dan truk yang banyak pula. Pak Joyo Jaimun, tiap hari selalu berada dilapaknya menunggui dagangan sepatu, sandal dari kulit, punya keinginan agar dagangannya laris. Pak Arjo Sopuro, mempunyai keinginan untuk menyebarkan perihal sujud ini ke seluruh dunia. Sedangkan Pak Kemi menginginkan agar anak cucunya memiliki wawasan budi luhur dan tak tertinggal dari yang lain dalam menempuh kehidupan ini.
Ternyata, apa yang tersirat dalam hati ini terkabul semuanya. Pak Soma Giman yang pada awalnya bekerja sebagai kernet saja, terlaksana memiliki 12 putra/putri dan juga memiliki 17 buah truk. Pak Joyo Jaimun mengalami dagangannya laris sampai akhir hidupnya. Pak Arjo Sopuro, yang kemudian menjadi Tuntunan Agung wargo Sapto Darmo, juga terlaksana menyebarkan ajarannya sampai kemanca negara. Pak Kemi, petani lugu, tak pernah bersekolah, dan hanya memiliki sawah seluas seperlima hektar , semua putranya menjadi perwira menengah, begitu pula putrinya diperistri perwira menengah.
Itulah semua yang telah dicapai oleh para mitra dan Pak Arjo . Pada kesempatan lain, Pak Kemi pernah menambahi ucapannya: “Andaikan Arjo berpendidikan lebih tinggi, tentu Sapto Darmo lebih termasjhur di dunia”


free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 20)

Sesembahan hanya kepada Hyang Maha Kuwasa.

Kesetaraan dalam hidup.
Waktunya masih pagi, tak tercatat hari, tanggal, bulan dan tahun kejadiannya.
Pagi itu Pak Kemi kedatangan seseorang dari Koplakan, atas permintaaan Pak Arjo. Dengan tergesa-gesa menyampaikan pesan Pak Arjo, agar Pak Kemi segera datang kerumah Pak Arjo Sopuro.
Sesampainya disana, melihat kejadian yang sangat menakjubkan. Dengan disaksikan banyak orang, didalam rumah Pak Arjo terlihat peristiwa yang amat langka. Pak Joyo Jaimun jatuh bersujud didepan Pak Arjo yang berdiri kaku didepannya, sambil mengucapkan kata-kata dengan suara keras: “ Aku sujud pada Hyang Maha Kuwasa”. Kejadian ini dilakukan tanpa mampu dicegah. Selanjutnya berganti Pak Arjo jatuh bersujud didepan Pak Joyo Jaimun yang telah berdiri tegak dan kaku didepannya. Pak Arjo juga mengucapkan kata-kata dengan suara keras: “ Aku sujud pada Hyang Maha Kuwasa”. Kejadian ini berulang, ganti berganti sujud tanpa dapat dicegah atau dihentikan. Setelah berlangsung hampir satu jam, disela-sela kejadian, Pak Arjo berteriak dengan keras: “Panggilkan Pak Kemiiiii”, demikian kejadiannya, sampai Pak Kemi datang menyaksikan peristiwa ini. Setelah datang dan melihat kejadian ini, anehnya tak lama kemudian peristiwa ini berhenti.
Setelah istirahat sejenak, Pak Arjo menceritakan bahwa Pak Kemi adalah orang yang ditunjuk oleh Hyang Maha Kuwasa untuk menjadi saksi peristiwa tersebut. Pada akhir cerita, Pak Arjo memberitahu bahwa sesama hidup tak ada yang harus disembah. Sembah hanya untuk Hyang Maha Kuwasa.
Oleh karena itu, tatkala Pak Joyo Jaimun menyembah pada Pak Arjo, tidak mengucapkan “Aku menyembah Arjo Sopuro” , begitu pula tatkala Pak Arjo Sopuro menyembah pada Pak Joyo Jaimun, juga tidak mengucapkan: “Aku menyembah Joyo Jaimun”, melainkan “Aku menyembah pada Hyang Maha Kuwasa”.
Pada peristiwa ini, Pak Kemi hanya menyatakan : “Aku memperoleh sedikit wahyunya Arjo”

free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 19)

Ritual yang tak umum.

Tukang potong rambut dan matahari.
Setelah terjadi peristiwa diatas (turunnya wahyu sujud), Pak Arjo tetap menjalankan rutinitas pekerjaan sehari-hari. Tatkala ada yang akan potong rambut, juga dilayani. Namun, setiap mulai mencukur, tangannya tidak mampu menjalankan tugasnya. Cukurannya morat-marit. Rambut terpotong tak beraturan. Akhirnya para pelanggan menjauh, tak mau potong rambut disitu.
Pak Arjo menganggur. Namun rejeki selalu datang, entah dari mana saja. Keluarga Pak Arjo tak pernah kekurangan makanan. Hal ini berlangsung terus menerus sampai dengan akhir kehidupan Pak Arjo dan Ibu Arjo.
Sejak saat itu Pak Arjo melaksanakan ritual yang tidak umum dilakukan oleh pengikut kebatinan.
Setiap hari, mulai jam 09.00 pagi, Pak Arjo duduk atau berdiri didepan rumahnya, memandang matahari hamper tanpa berkedip. Masyarakat sekitar tidak mengetahui, apa tujuannya melakukan ritual seperti itu. Ritual ini dilakukan mulai jam 09.00 pagi sampai jam 15.00 siang. Yang menyaksikan menyangka Pak Arjo sudah menjadi gila.
Tetapi nyatanya tak terjadi sesuatu apapun. Artinya, kehidupan sehari hari berjalan seperti biasanya.
Yang menimbulkan keheranan orang adalah, perilaku memandang matahari setiap harinya ternyata tidak menimbulkan masalah pada penglihatannya. Tak ada perubahan apapun dalam melihat dan memandang sekitarnya . Sama seperti keadaan sebelum melakukan ritual tersebut.

free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 18)

Melakukan ritual kerohanian
Pak Arjo adalah seorang awam. Tak pernah melakukan ritual kerohanian seperti umumnya orang berguru ilmu kebatinan.
Puasa Senin Kamis, hanya makan nasi putih selama ritual, ritual membisu , apalagi berendam disungai, tidak pernah dilakukan.
Berwatak disiplin, tidak percaya pada hal-hal yang bersifat kasat mata, dan juga sama sekali tak mau menghiraukan makam/kuburan, memberi sesajen pada pohon beringin yang diyakini masyrakat sebagai pembawa keselamatan, juga tidak terhadap segala jenis senjata kuno yang diyakini masyarakat sebagai pusaka bertuah, tombak, keris, dan sebagainya.
Sepanjang waktu, tatkala berpindah pindah tempat bermalam dirumah mitranya , dapat melihat dan mengetahui hal-hal yang sebelumnya tidak terpantau. Misalnya di rumah Pak Kemi, Pakn Arjo mengetahui adanya bermacam tumbal yang dipendam dalam tanah, yaitu tulang babi dan tulisan huruf Arab yang dibungkus kain kafan. Tumbal ini adalah sarana untuk menolak teluh dan juga untuk keselamatan keluarga Pak Kemi.
Selanjutnya, atas perkenan Pak Kemi, semuanya diambil dan kemudian dibuang kesungai.
Ada tumbal yang dinamakan “Cok Bakal” , yang berupa sesajian yang ditempatkan dipojok sawah, itupun diambil dan dibuang kesungai.
Yang lebih aneh lagi, jika makan makanan dari warung, sehabis makan lantas muntah muntah. Setelah ditanya , kemudian memberi tahu bahwa pemilik warung penjual makanan itu melakukan ritual sesajen pada tempat tertentu, agar jualannya laris. Padahal, sebelum ada peristiwa kedatangan wahyu tersebut , warung tersebut menjadi langganan , dan setelah makan juga tak terjadi masalah apapun.

free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Kamis, 13 Agustus 2009

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 17)

Wawasan hal 17

Peristiwa kedatangan wahyu.

Disebutkan bahwa wahyu datang secara tiba-tiba. Tetapi bukan berarti sama sekali tak ada tanda-tanda yang mengawalinya. Setelah merenung dan mengingat ingat, ternyata memang tanda-tanda kedatangan wahyu itu ada, tetapi luput dari pengamatan. Jika mengingat bahwa pada Kamis Pon 26 Desember 1952 sekitar jam 09.00 pagi itu Pak Arjo memberitahu Pak Kemi bahwa ada perintah dari "guru"nya untuk pulang karena akan di"wejang guru", dapat disimpulkan bahwa saat itulah awal kedatangan wahyu tersebut.

Proses tersebut berlangsung terus dengan puncaknya terjadi pada jam 01.00 malam hari sampai jam 03.30. Belum berakhir sampai disitu, sebab mitranya: Pak Kemi dan Pak Joyo Jaimun serta dengan Pak Soma Giman juga merasakan getaran dan gerakan luar biasa tersebut sampai jam 09.00 pagi. Maka proses kedatangan wahyu sujud ini mulai jam 09.00 pagi tanggal 26 Desember 1952 sampai dengan jam 09.00 tanggal 27 Desember 1952.

- - - - - - -

Penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya pada pembaca, terutama para warga Kerohanian Sapta Darma, karena tanpa perkenan telah menulis proses kedatangan wahyu, yang mungkin berbeda dengan apa yang selama ini telah diketahui para Warga. Ada versi yang mengatakan bahwa orang pertama yang diberitahu tentang kejadian luar biasa ini adalah Pak Joyo Jaimun, mengingat rumahnya paling dekat dengan rumah Pak Arjo. Ada pula yang menulis bahwa Pak Soma Gimanlah yang pertama dituju, dengan catatan Pak Soma Giman orang yang memiliki banyak ilmu. Penulis hanya mencatat, bahwa Pak Kemi sampai akhir hayat (tahun 1993) tetap melakukan sujud sebagai cara untuk menyembah Hyang Maha Kuwasa. Beliaupun tak pernah mempermasalahkan, siapa yang pertama kali didatangi Pak Arjo ketika menerima wahyu tersebut.

free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 16)

Peserta wanita pertama.

Catatan
Para sahabat Pak Arjo yang telah menjalani sujud, ada yang tetap melakukan sujud sampai akhir hayat. Tetapi banyak pula yang hanya ingin mengetahui ajaran ini, selanjutnya tidak melakukan sujud lagi. Hal tersebut terserah pada pribadi masing-masing. Dari kalangan putri, Ibu Sukemi adalah wanita pertama yang melakukan sujud.Dan tetap melakukan sujud sampai akhir hayat (tahun 2000). Ibu Arjo Sopuro malah belakangan baru sujud.

free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 15)

Kesaksian para pengikut kebatinan.
Pada waktu itu banyak pengikut kebatinan yang mendapat firasat bahwa akan terjadi peristiwa kedatangan wahyu besar Orang mengatakan "pulung agung". Karena itu, sebagian besar melakukan ritual mengurangi tidur dimalam hari dan bersemadi ditempat tertentu. Ada beberapa orang melihat dengan mata batin, suatu cahaya besar jatuh menuju kampung Koplakan Pare diikuti dengan suara bergemuruh, dalam sanubari. Benar atau tidak, hamba tidak dapat memberi komentar.

free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah