Tampilkan postingan dengan label sujud. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sujud. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2011

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 33)

free counters
Free counters
+


DASA – WARSA
AGAMA SAPTA DARMA
( 10 th usia A.S.D. )


Disusun oleh
SRI PAWENANG
Juru Bicara Panuntun Agung
AGAMA SAPTA DARMA

________________________________________________________
Dikeluarkan oleh :
YAYASAN SRATI DARMA

________________________________________________________
Dilarang mengutip atau mencetak atau menjual buku ini.



SEMBOYAN
Dimana Saja, Kepada Siapa saja warga Sapta Darma harus bersinar laksana Surya (Baskara).

Foto PANUNTUN SRI GUTAMA

Pengantar Kata.
Kita sambut dengan gembira keluarnya Buku Peringatan 10 tahun timbulnya Agama Sapta Darma di Indonesia ini ialah sejak ilham yang pertama2 diterima oleh Panuntun Sri Gutama di Pare Kediri (Jawa Timur) ialah tanggal 27 December 1952 sampai sekarang tanggal 27 December 1962.

Sepuluh tahun kita para warga Agama Sapta Darma diberi petunjuk jalan serta diasuh oleh Panuntun kita Bapak Sri Gutama Pencipta Agama Sapta Darma yang tiada mengenal payah. Serta didalam menjalankan tugas2 Hyang Maha Kuasa selalu disertai ketenangan, ketegasan serta ketabahan, menghadapi segala empasan gelombang.

Achirnya sepuluh tahun telah lampau, kita warga Agama Sapta Darma beramai-ramai dengan penuh kesederhanaan dan kemeriahan memperingati Dasa Warsa genap 10 tahun usia Agama Sapta Darma ini yang dihadliri oleh segenap Tuntunan Agama Sapta Darma dari seluruh Indonesia, di Kediri.

Alangkah terharunya hati kami setelah Panuntun Agung kita Bapak Sri Gutama memberikan ulangan2 yang sangat tinggi nilainya kepada para Tuntunan untuk diteruskan kepada seluruh warganya dari seluruh penjuru tanah air ialah kesempurnaan penelitian pasujudan Agama Sapta Darma yang nanti akan kami muat didalam buku ini, agar dapat dipakai sebagai pedoman Saudara2 didalam mencapai kesempurnaan menyembah kehadapan Hyang Maha Kuasa, serta dapat mencapai ketentraman hidup serta kewaspadaan pribadi, serta mengerti akan kesempurnaan hidup yang sejati.

Maka patutlah saat yang bersejarah itu kita peringati, kita camkan betul2 apa arti dan maksudnya kita menggali rasa kita yang meliputi seluruh tubuh atau kita menggali kepribadian kita yang asli.

Tiada kami lupakan kepada Sdr. Sugijo dari Staf Panuntun Agung atas bantuannya dan saran2 dari Bapak Kapten Alri Slamet dalam menyusun Buku ini. Dan tentulah senantiasa tegur dan sapa dari para pemakai kami nantikan, demi kesempurnaan Buku ini dalam penerbitan jad. Semoga buku ini bermanfaat bagi para pemakai.
Kediri, 27 December 1962.
SRI Pawenang.
Notulen (= tambatan)
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Petuah-petuah
PENUNTUN AGUNG AGAMA SAPTA DARMA
Bapak SRI GUTAMA
.
Pada upacara Peringatan 10 tahun Agama Sapta Darma yang dihadliri oleh Segenap Tuntunan Agama Sapta Darma seluruh Indonesia.
--- di Kediri ---
(Dua malam berturut-turut ialah tanggal :27/28 dan 28/29 December 1962).
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Tanggal: 27/28 December 1962.
Mulai jam : 22.25
.

Para hadlirin sekalian Yth.
Bapak2 Tuntunan Agama Sapta Darma dari seluruh Tanah Air Indonesia.
Pertama-tama minta maaf apabila didalam uraian kami nanti terdapat kekurangan2, kekhilafan2 dan kesalahan2 baik disengaja maupun tidak disengaja.
Disamping itu disini kami sampaikan banyak2 terima kasih kepada Tuntunan Agama Sapta Darma Propinsi Jawa –Timur, yang kami serahi untuk menyelenggarakan peringatan ini, dan atas nama para yang hadlir, kami minta maaf sebesar-besarnya.
Selanjutnya yang per-tama2 kami akan berbicara pada para tuntunan2 dari seluruh Indonesia yang pada malam hari ini hadlir disini.

Saudara2 para Tuntunan Yth.
Tugas tuntunan adalah berat, berat sekali, mampu tidaknya melaksanakan tugasnya tergantung pada kemauan, keinsjafan dan keikhlasannya.
Menjadi Tuntunan berarti
mengabdi, yaitu mengabdi warga.
Ia bertugas
meninjau ketempat-tempat para warga dipelosok-pelosok,
menuntun /mengajar serta membimbing mereka untuk berdarma dalam hidupnya,
demi tercapainya cita2 luhur / satria utama.

Jadi apabila terdapat kesalahan2 pada warga didalam menjalankan / melaksanakan ajaran Agama Sapta Darma, sebenarnya
sumber kesalahan itu terletak pada pundak Sdr2. Tuntunan sekalian.
Mengapa demikian ?.
Sebab banyak para Tuntunan Agama Sapta Darma yang
hanya simbolis saja, dalam arti
belum melaksanakan fungsi dan tugasnya.
Ia bahkan tidak mau bersatu/menyatukan diri,
tidak membimbing warganya, melainkan
seperti majikan,
minta didewa-dewakan,
tidak memberi contoh berdarma kepada warganya, dsbnya.

Padahal sebenarnya Saudara2 dapat berdarma sesuai dengan kemampuan dari pada :nafsu, budi dan pakartinya.
Alasan tidak adanya waktu, hal ini tidak dapat kami terima, sebab dalam hidup kita harus membagi waktu dari 24 jam itu misalnya:
8 jam untuk cari makan (bekerja).
7 jam untuk tidur.
2 jam untuk istirahat.
2 jam untuk bersenang-senang misalnya: nglencer (jalan2).
5 jam untuk mengolah rochani.

Saudara2 sekalian Yth.
Saya kira 5 jam telah cukup untuk mengolah rochani sambil berdarma demi tercapainya budi luhur. Kaya darma adalah ciri yang khas daripada manusia yang Sosialis Revolusioner. Lihatlah pada Symbol Sapta Darma (symbol pribadi manusia), ada tertulis nafsu, budi dan pakarti berarti Revolusionair (gerak cepat kearah perbuatan yang baik) sedangkan kata “Darma” disitu berarti Sosialis.
Jadi kalau Saudara betul2 menjadi Tuntunan berarti mempunyai jiwa yang “Sosialis Revolusionair”. Maka apabila Saudara2 memiliki jiwa Sosialis revolusionair, laksanakanlah tugas Tuntunan itu.
Tetapi apabila memang Saudara tak mampu, tak sanggup, sehingga Saudara2 hanya jadi symbol saja, atau bersifat sebagai majikan saja, maka lebih baik letakkanlah dan serahkanlah kembali tugas Tuntunan itu, dan
jadilah warga biasa.
Warga2pun insjaflah tentang pentingnya berdarma itu.
Darmakanlah mengenai hidup rochanimu.
Darmakanlah hasil penggalian pribadimu
.
Rochani=jiwa=rasa.
Kaya darma rochani berarti kaya darma rasa.
Bahasa Jawa = Dana Rasa.

Saudara2 sekalian Yth.
Manusia hidup diliputi/dipengaruhi oleh 3 getaran, yaitu getaran dari tumbuh2an, getaran dari binatang, getaran dari cahaya.
= Hidup tumbuh2an adalah tidak sempurna, karena hanya memiliki nafsu saja, ialah nafsu untuk mencari makan. Lihatlah akar dari pada tumbuh2an tersebut menembus apa saja yang menghalang-halangi dalam usahanya mencari makan.
=Hidup binatang juga kurang sempurna karena memiliki nafsu, dan budi. Maka hidup binatang lebih tinggi daripada hidup tumbuh2an.
Suatu usaha mempertahankan jenis (misalnya : melindungi anak2nya), adalah budi yang ada pada binatang.
= Manusia adalah makhluk yang sempurna; karena mamiliki nafsu-budi dan pakarti.
Maka hidup manusia adalah sempurna dan tertinggi.

Saudara2 sekalian Yth.
Makhluk2 yang kurang sempurna saja banyak memberi darma. Lihat saja tumbuh2an berguna bagi binatang juga bagi manusia. Demikian pula binatangpun berguna bagi hidup manusia. Selain tenaganya didarmakan kepada manusia, kalau perlu sampai nyawanyapun misalnya ayam, ia menyerahkan lehernya apabila kita kehendaki.
Nyatalah bahwa binatang dan tumbuh2an sebagai isi dunia ini besar darmanya bagi manusia. Lalu bagaimana dengan kita manusia sebagai machluk yang sempurna ini ? Apa darma kita kepada sesama hidup ? Maukah kita dikalahkan oleh tumbuh2an dan binatang ?

Saudara2 sekalian Yth.
Sekarang apakah yang dapat kita darmakan ?
Yang dapat kita darmakan adalah Nafsu, budi, pakarti yang baik.
Apabila kita mengenyam buah, apa yang kita nikmati ialah rasanya. Demikian pula yang kita darmakan ialah rasa kita yang baik, budi pakarti kita yang baik, sehingga biar bisa dikenyam oleh sesama hidup.
Getaran tumbuh2an dan binatang yang kita makan ini mempunyai pengaruh juga terhadap tata hidup kita, dan pengaruh itu ada yang baik dan ada yang buruk. Sifat yang jelek antara lain ialah sifat malas, iri hati, suka mencela, benci dsb-nya. Semua sifat tersebut adalah sifat yang mengotori kepala kita dan bahkan menunjukkan kekurangan diri.
Membasmi sifat2 itu berarti kita menghimpun sifat2 yang baik. Himpunan getaran2 yang sempurna akan mendorong manusia bertindak baik dan berjiwa Sosialis revolusionair. Menjadikan manusia terhormat dan satria utama. Hanya satria utamalah yang dapat menghayu-hayu bahagianya buwana, dan berbudi bawa leksana.

Saudara2 Yth.
Semua itu adalah penunjuk / kritik dan teori demi tercapainya keluhuran budi Saudara2 sendiri untuk mengolahnya. Jadi Saudara2 mempunyai hak untuk mengoreksi dan selanjutnya menggali sendiri. Ingatlah saja bahwa kita manusia adalah makhluk yang tertinggi jadi janganlah kita mau dijajah/jangan mau kalah dengan tumbuh2an dan binatang2.

Saudara2 Yth.
Renungkan keterangan2 diatas. Rasakanlah baik2, sebab saja tak pandai mengutarakan.
Lalu bagaimana caranya supaja kita tidak dijajah oleh getaran2 yang kurang sempurna ?
Caranya ialah jujur, jujur sekali lagi jujur.
Kita jujur terhadap siapapun,
terutama terhadap hidupnya sendiri.

Tingkah laku hidup manusia dikemudikan oleh getaran2 yang ada dikepala.
Apabila getaran2 tumbuh2an yang memenuhi kepala, maka
manusia yang demikian akan bersikap malas,
dan apabila getaran2 binatang yang menguasai, maka meskipun ia giat, tindakannya akan kurang baik.
Karena itu, galilah,
telitilah selalu getaran2 yang menguasai dirimu,
agar segala tingkah lakumu selalu didorong oleh getaran2 yang sempurna.
Ingatlah bahwa darmamu akan selalu diingat/dikenang oleh orang yang diberi darma.
Dengan mencintai hidupnya, mencintai sesama umat, maka berarti ia menjunjung tinggi dirinya, bangsanya dan negaranya.

Saudara2 Yth.
Meskipun Agama Sapta Darma perkembangannya laksana air laut yang berarti senantiasa pasang surut serta bergelombang, namun dalam pertumbuhannya dan perkembangannya selama 10 tahun ini warganya telah berjuta-juta.
Sebab semua mengenyam hasil2nya . Alangkah baiknya apabila hasil2 itu diamalkan/ didarmakan pada sesama. Dengan demikian Agama Sapta Darma akan lebih pesat lagi perkembangannya.
Banyak diantara Tuntunan dan warga yang
meributkan soal perlunya berdiri sebuah sanggar ditempatnya.
Ini sebetulnya kurang kami setujui.
Mengapa ?
Saudara sekalian berdarma saja belum;
sujudnya masih korat-karit,kok meributkan soal berdirinya sanggar.
Jangan demikian Saudara2. Yang penting disini ialah:
Galilah rasamu yang sempurna,
jangan meributkan soal sanggar.
Perbaikilah budi pekertimu dahulu,
bersihkanlah kepalamu dari kekotoran.
Janganlah seperti udang yang selalu membawa kotoran dikepalanya.
Maukah Saudara2 disamakan dengan udang ?.
Maka sempurnakanlah dahulu hidupmu.
Galilah kepribadianmu yang asli kemudian amalkanlah. Darmakanlah.
Soal cita2 sanggar itu mudah nanti.

Saudara2 Yth.
Soal nama Sri Gutama saja jadi rebutan. Banyak yang ingin menyebut dirinya Sri Gutama.
Silahkan kalau memang konsekwen. (Jawa = sembada).
Yang selalu membimbing umat kepelosok-pelosok,
berani meninggalkan kepentingan dirinya sendiri,
hanya cinta dan berdarma kepada umat
.
Dapatkah Saudara memisahkan antara Sri Gutama dan Harjasapura ?
Yang mana Sri Gutama ? Yang mana Harjasapura ?
Kalau Saudara2 sujud melihat Sri Gutama seperti apa ?
Apakah melihat Sri Gutama Harjasapura Pare ?
Atau melihat Sri Gutama pak Dirja, pak Salam.
Diantara para hadirin menyawab serentak. Melihat Sri Gutama Harjasapura Paree.
Betul ? Jawab : Ya.
Nah. Saudara2 sekalian
Jangan Saudara sampai tertipu itu semuanya,
malah akan merugikan dirimu sendiri, sedang
soal kecil diperbesar.

Saudara2 hadirin Yth.
Modal jadi Satria utama, ialah jujur dan cinta.
Baik terhadap dirinya sendiri, maupun terhadap sesama
.
Untuk itu diperlukan kemauan yang keras dan kesanggupan yang penuh dalam usaha menggali pribadi saudara yang asli, atau hidup yang sempurna. Dimana hasilnya didarmakan.
Bila kita benar2 bisa melaksanakan, percajalah, bahwa Saudara2 akan dapat menjadi contoh, menyadi pelopor, sehingga akhirnya bangsa kita akan jadi pelopor umat/bangsa didunia.
Sekianlah dahulu Saudara2.
Achirnya resapkanlah, dan renungkanlah dalam2 uraian kami tersebut. Apabila kurang puas, kritiklah, debatlah.
Jam: 23.10.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Uraian Panuntun Agung fase ke II. Jam: 24.55
Bapak2. Ibu2 Yth.
Kami menangis, karena melihat kenyataan banyak warga, dalam menjalankan wewarah Agama Sapta Darma belum dapat melaksanakan sebagaimana mestinya. Karena itu dibawah ini ada petunjuk2 yang benar. Kami berharap mendapat perhatian/penelitian yang sepenuhnya, sehingga dengan demikian benar2 dikuasai dengan betul. Dan buahnya nanti dapat kita kenyam benar2 dan dapat Saudara sebarkan serta turunkan kepada anak cucu kita nanti.

Saudara2 Yth.
Sujud yang sempurna dalam pasujudan Agama Sapta Darma bergandengan erat dengan biji dan asal mula manusia.
Sujud Agama Sapta Darma berarti pula sujud tentang asal mula manusia. Berarti yang dapat merasakan rasa yang semulia-mulianya.
Apakah asal mula manusia itu ?
Ialah dari getaran tumbuh-tumbuhan dan getaran dari binatang yang kita makan, dan akhirnya berwujud air putih (air suci); dengan sinar cahaya (tri-tunggal).
Didalam pertanian misalnya, apabila kami inginkan hasil yang baik, maka dipilihlah bibit yang baik, bibit yang unggul, bibit yang sempurna.
Sebab dengan bibit yang demikian, tanaman kita mengharapkan buah/hasil yang baik pula.
Dalam kehidupan kita manusia, kita akan men-cita2kan mempunyai anak yang baik, seperti anak yang cerdas, bagus, cantik, sehat, bijaksana dsb.-nya. Akan tetapi adakah kita perhatikan bibitnya ? Ternyata tidak bukan ? Bahkan biji manusia diecer-ecer di-mana2, disebarkan pada tempat2 gelap, tempat yang tiada layak, dsb.-nya. Sebab menanam biji yang sempurna terletak pada Bapak2 semua. Kenakalan, kebodohan dan kekurang sempurnanya anak2 yang dilahirkan, adalah kekeliruan orang tua dalam memelihara bijinya. Karena itu hematlah dengan biji manusia. Janganlah menuruti nafsu buasnya saja. Misalnya saja, habis menanam di-warung2 atau ditempat2 gelap, kemudian menebarkan disawahnya sendiri sampai dirumah.
Lalu bagaimana hasilnya ?
Atau Sdr. habis main judi, lihat barang2 yang jelek2, sampai dirumah terus menebarkan biji. Bagaimana hasilnya nanti anak2 kita ? Tentu saja akan jelek bukan ? Sebab getaran2 yang buas yang jelek masih ter-kenang2 dikepala. Padahal getaran2 tersebut akan turut pula tersaring dalam menurunkan biji2 manusia, dan turut pula tertanam didalamnya.

Bapak2 sekalian Yth.
Ciptakanlah anak2/keturunan Sapta Darma yang baik, yang sempurna. Ciptakanlah anak yang cerdas, yang berbudi luhur, anak yang utama, anak yang baik dengan jalan memelihara biji manusia yang sempurna. Karena itu perlu Saudara2 sekalian mengolah biji manusia itu. Tentu saja caranya dengan jalan sujud.
Karena seperti pernah sering kukatakan pada Saudara, bahwa getaran air putih kita akan dapat menyiram keseluruh tubuh, terutama dapat mengalahkan getaran2 yang kurang sempurna yang ada dikepala. Maka kepala kita dapat tenang, tentram dan dingin. Yang mana nantinya getaran tenang, tentram tadi, akan turut pula tersaring dalam penanaman biji tsb. Yang akan menghasilkan anak yang cerdas, sehat dan waspada seperti yang kita harap-harapkan. Nah inilah Saudara sekalian yang terpenting harus saudara renungkan dan perhatikan betul2.

Saudara2 hadirin Yth.
Sampailah kita sekarang kepada uraian soal SUJUD. Dalam menjalankan sujud perlu sekali kami sempurnakan, agar dapat lebih manfaat pada diri kita.
Ucapan2 dalam sujud: Hyang Maha Suci sujud Hyang Maha Kuasa.
Benarkah yang sujud itu Hyang Maha Suci kita sungguh2 ?.
Karena itu sekarang pahamkan benar, kemudian nanti sebarkan dan beberkan pada warga2. Apabila belum mengerti sekali-kali janganlah malu bertanya. Sebab ini adalah kebutuhan Saudara sendiri.
Adapun cara penelitian sujud yang sempurna adalah sbb:
Yang pertama:
Duduk bersila bagi seorang pria/ bertimpuh bagi seorang wanita

menghadap ke Timur seperti biasa.

Mata diarahkan kebawah, memandang tajam +- 1 m.

Duduknya tegak lurus, bersikap tenang,

jangan memikirkan apa2/macam2

(Andaikan kepala menggeleng kekiri atau kekanan, juga apabila kepala mendangak atau kepala dingkluk kebawah, hal ini tidak boleh sama sekali karena nanti akan menghalang-halangi (mengganggu) jalannya getaran air suci tersebut yang akan berjalan langsung keotak besar)

FASE KE 1.
Mulai merasakan getaran yang kasar naik,

maka kepala terasa berat,

kemudian getaran menurun, menutup mata.

Setelah mata tertutup akibat turunnya getaran tersebut, maka

getaran menurun lagi sampai kepada mulut.

Kemudian mulut/ bibir terasa tebal dan

dari lidah keluar air liur (air ludahnya)

kemudian air ludah tersebut kita telan,

terus didalam batin mengucap:
Allah Hyang Maha Agung.
Allah Hyang Maha Rochim.
Allah Hyang Maha Adil
.

FASE KE II.
Selanjutnya merasakan getaran yang ke 2 yang halus ialah
getaran air putih yang berasal dari tulang cetik (Bhs.Jawa silit kodok atau tulang ekor)

Getaran air putih tersebut naik sedetik demi sedetik melalui ruas2 tulang punggung (ula2 , Bahasa Jawa)

Adapun jalannya sangat halus sekali karena
tiap2 ruas merambat mengambil getaran2 dari sumsum tulang punggung tadi.

Jalannya halus sekali.
Begitulah selanjutnya
sedetik demi sedetik melalui ruas2 tulang punggung tersebut.

Dengandemikian maka
badan akan membungkuk dengan sendirinya mengikuti jalannya getaran yang halus tersebut.

Sikap lurusnya badan harus tetap dipelihara,
artinya membungkuknya jangan melengkung, sehingga tidak mengganggu jalannya air putih tadi.

Bapak2 dan para hadirin Yth.
Disini yang perlu diperhatikan ialah
gangguan2 yang tidak kita sangka2 datangnya,
ialah pikiran2 yang datang se-konyong2,
hingga mengganggu dalam merasakan nikmatnya jalannya getaran air putih tersebut.

Bagaimana cara kita menolak gangguan2 tersebut ?
Ialah sewaktu datang gangguan tersebut, maka
mata kita buka dengan sengaja.
Lalu dalam batin mengucap:
Allah Hyang Maha Agung.
Allah Hyang Maha Rochim.
Allah Hyang Maha Adil.


Setelah gangguan itu hilang, maka
mata kita tutup kembali.
Akan tetapi harus diingat:
1. Sikap tubuh sewaktu terganggu harus tetap diperhatikan (jangan dibungkukkan)
2. Maka
harus diingat, sampai dimana jalannya getaran air putih tadi, sehingga setelah menyebut Asma Allah 3 tadi, mata telah ditutup kembali, dengan demikian jalannya yang tertahan tadi dapat diikuti kelanjutannya.

Hal ini perlu sekali diperhatikan agar tidak terjadi loncatan2 jalannya getaran air putih.
Jalannya seperti menaiki tangga rantai untuk masuk/ naik ke Jonggring Selaka (otak besar) melalui Sela Penangkep (otak kecil) tersebut.

Demikianlah selalu dikerjakan, apabila datang gangguan selama sujud, sehingga akhirnya dahi menyentuh tanah/ tikar.

Apabila dahi telah menyentuh tanah, ini berarti bahwa jalannya getaran air putih telah sampai ke otak besar.

Maka lalu mengunjal ambegan (menghela napas panjang).

Bila lidah serasa penuh air liur bergetar, kemudian mengucapkan :
"Hyang Maha Suci sujud Hyang Maha Kuasa" 3 X (dalam batin)
Inilah saatnya kontak dengan sinar Allah.

Hadirin sekalian Yth.
Mempelajari dan melakukan hal tersebut diatas bukanlah hal yang mudah. Apabila hal2 tersebut belum bisa dilaksanakan, maka ia belum dapat melakukan apa yang disebut ening.
Hingga dewasa ini banyak para Tuntunan maupun warga yang merasa gembira sekali apabila didalam sujud mendapat gambaran2, meskipun ia tidak dapat meramalkan maksud gambaran tersebut. Dan anehnya gambaran2 yang ia peroleh diramalkan dengan pikir. Bagaimana dapat benar apabila ditafsirkan secara akal pikir ?
Sebab rasa diwejang oleh cahya.
Maka caranya meramali harus pula dengan rasa.

Saudara2 sekalian Yth.
Apabila penelitian sujud yang sempurna tersebut telah dapat Saudara jalankan/praktekkan dengan betul, maka berarti Saudara telah melakukan penggalian yang sejati, penggalian pribadi yang asli.
Dan apabila Saudara telah berhasil, maka Saudara akan menjadi manusia yang utama, terhindar dari jajahan getaran2 yang kurang sempurna/ tidak sempurna seperti telah kami uraikan dimuka. Atau Saudara akan menjadi manusia yang berbudi luhur.
Semuanya itu akan dapat terlaksana apabila usaha itu didampingi dengan kemauan dan kemampuan saudara, dan juga didampingi dengan kaya darma (jadi memerlukan 3 unsur).

Saudara2 sekalian Yth.
Sujud bungkukan ke I telah selesai.
Kemudian duduk kembali.
Apabila kita telah duduk,
semua getaran dikepala yang telah kontak dengan sinar cahaya akan turun, merata keseluruh tubuh.
Maka lalu dirasakan turunnya itu.
Saluran mana yang dilalui, silahkan Saudara teliti sendiri didada Saudara.
Disini sengaja tidak kami tunjukkan dengan harapan:
1.Sdr. dapat meneliti/memecahkan sendiri.
2.Menjaga Saudara2 tidak akan menjadi manusia ikut-ikutan (=rubuh-rubuh gedang).
Turunnya getaran tersebut melalui dada (serasa dingin),
kemudian keperut.
Saat inilah untuk melatih kewaskitaan/kewaspadaan.
Sebab kita dapat melatih kewaskitaan dengan meneliti getaran2 yang mengalir ke gelombang2 yang ada/saluran2 yang mana yang dilaluinya getaran2 tersebut.
Sebetulnya kita sendiri telah mempunyai kewaskitaan tersebut misalnya dada kita terasa trataban, maka dalam batin kita akan ada apa ini.
Akan tetapi kita belum tahu duduk soalnya.
Maka kita sekarang dapat mengerti sebab2-nya. Sebab Saudara sekalian telah saja beri cara jalannya Saudara akan menjadi manusia yang penuh waspada.
Itulah penggalian pribadi yang aseli.
Janganlah Saudara2 akan menjadi manusia ikut-ikutan atau rubuh-rubuh gedang.
Saudara harus berani memecahkan dan memikirkan persoalan-persoalan.
Sukakah Saudara2 akan menjadi manusia ikut2-an ?Rubuh2 gedang ? Manusia yang anut grubjug ?
Jawab hadirin a.l. Tidak !!!
Jadi bilamana Saudara ke sanggar,
janganlah hanya untuk mengobrol saja,
tapi gunakan kesempatan itu untuk
menggali, meneliti melatih diri sendiri.
Sanggupkah saudara2 melaksanakan ???
Jawaban hadirin. Sanggup !!
Nah ,jawaban saudara2 itu keluar dari
bibir malang atau bibir mujur ?
Artinya, sungguhkah Saudara2 dapat menepati janji?
Jawaban Saudara2 sekalian yang dulu2 itu kebanyakan keluar dari
bibir mujur yang artinya dapat mulur/mungkret.
Janji saudara tidak kau tepati sendiri.

Saudara2 sekalian laksanakanlah penggalian dan penelitian yang sungguh2. Saya ingin Saudara2 para tuntunan menjadi manusia yang waspada,
bebas dari iri hati,panasten, dahwen, dsb.nya, sebab perasaan2 yang jelek itulah akan menghambat kewaspadaan, kewaskitaan Saudara2.
Selanjutnya.
Apabila bungkukan2 telah selesai dan Saudara telah duduk kembali, maka
silahkan Saudara menyelesaikan bungkukan ke 2, ke 3 dengan cara seperti pertama.

Saudara2 sekalian Yth.
Sujud Saudara sekalian adalah sujud asal mula manusia.
Maka mulai sekarang kurangilah makan dan tidur. Tapi kata2 ini,
jangan diterima wantah begitu saja Saudara (jangan diterima letterlijk).
Disini dapat saya umpamakan. Bila orang habis mencangkul sawah, ia akan mengalami rasa capai. Akan tetapi capai dalam mencangkul tanah akan memberi kesehatan badan kita, karena kita mendapatkan sinar matahari dan sari2 getaran tanah.
Sebaliknya bila Bapak2 bersetubuh, walaupun hanya sebentar, badan kita akan capai dan lemas, lembek.
Karena apa ? Biji manusia dikuras dari badan. Sedang itu sebetulnya membikin kesehatan.
Maka hematlah dengan penebaran biji manusia.
Caranya telah saja utarakan dimuka
keraplah sujud dalam waktu senggang.
Apabila Saudara2 betul2 dapat menyalankan seperti apa yang saja katakan tadi, niscayalah pelacuran akan lenyap dari masyarakat Indonesia.

Bapak2 Tuntunan Yth.
Kita harus bersatu. Janganlah dikalangan kita membeda-bedakan suku2 misalnya, disini ada suku Sunda, Bali, Lampong, Jawa dsb.
Saja tak suka akan suku2, sebab nanti akan pincang Saudara.
Sebab lantas tidak punya tangan. Karena itu demi untuk persatuan bangsa Indonesia ialah menghendaki Satu Bangsa. Satu Negara. Satu Bahasa.
Maka saya usulkan agar Buku2 Wewarah Agama Sapta Darma dicetak kedalam Bahasa Indonesia. Sebab kami tak setuju dipertahankannya suku2, demi untuk persatuan bangsa Indonesia.
Percajalah, apabila Saudara2 juga penuh berusaha, maka bangsa kita akan jadi bangsa no. 1 didunia, akan jadi contoh dan akan jadi pelopor bangsa didunia dalam keluhuran. Percajalah A,S,D dan Negara kita Indonesia akan bersinar keseluruh dunia, bersinar laksana Surya.

Bapak2/Ibu2 sekalian Yth.
Sapta Darma adalah Agama.
Mengapa ?
Saudara sekalian tahu
artian Agama dalam arti difinisi rochaniah menurut Sapta Darma berasal dari arti:
A = Asal mula manusia.
Ga = Gama ( kama, berarti air suci/putih.)
Ma = Maja: sinar Cahaya Hyang Maha Kuasa.


Jadi Sapta darma adalah Agama karena Sujudnya menggali/ memelihara asal mula manusia.

Karena sudah saya katakan
asal mula manusia ialah dari air putih dan Sinar cahaya Hyang Maha Kuasa.
Inilah definisi Agama menurut pendapat Sapta Darma.
Sekian, terimakasih. Jam 1.53.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Fatwa PANUNTUN AGUNG pada malam ke 2, tgl. 28/29-12-’62 yang dimulai pada jam 22.30.

Bapak2, Ibu, Para hadlirin Yth.
Sebelumnya saya minta ma’af, bila terjadi kekhilafan dalam uraian nanti. Pertama2 akan kami uraikan sekedar cuplikan riwayat penerimaan dan perkembangan A.S.D.
Sejak penerimaan ilham yang pertama, kami selalu diikuti oleh 2 orang sahabat (pengikut), yang selama itu tidak pernah berpisah. Dengan demikian mereka itu selalu menjadi saksi2 utama dalam penerimaan ilham2.
Apabila ada diantara mereka itu yang mengundurkan diri, atau misalnya terjadi dua2nya mengundurkan diri, entah bagaimana, mesti ada orang lain yang menggantikannya mengikuti kami. Demikian seterusnya sejak semula (th 1952) s/d tahun 1956, saat mana para sahabat mengembangkan A.S.D. keluar kota Pare keseluruh Indonesia.
Mereka itu ada yang mengikuti terus-menerus selama 3 bulan, ada yang 4 a 5 bulan bahkan ada yang 7 a 8 bulan.
Dalam usaha mengembangkan A.S.D. banyak sekali rintangan2, penderitaan2, pengorbanan2 perasaan yang bersama kami hadapi/derita.
Ejekan2, cemoohan2 dilontarkan pada kami. Namun semua itu kami terima dengan penuh ketenangan & kesabaran serta kegembiraan.
Hanya berkat ketabahan itulah akhirnya Hyang Maha Kuasa mengijinkan A.S.D. berkembang dengan subur serta cepat.
Karena itu kami pesankan disini pada para Warga maupun Tuntunan terutama, meski banyak rintangan yang Sayudara2 hadapi terimalah dan hadapilah itu dengan tenang dan teguh.
Terimalah segala rintangan dengan gembira serta kesadaran.Sebab semua rintangan itu semuanya adalah pupuk serta menguji ketabahan,kesadaran dan keyakinan kita.
Tanpa rintangan2 takkan tercapai untuk menyadi Satria Utama.
Untuk memiliki budi luhur, jalannya tidaklah lurus & rata.
Disekolah, tiap kenaikan kelas/tingkat, mesti ada ujian atau test. Demikian pula kita.
Tiap kita menuju ketingkat kesempurnaan/ keluhuran, pastilah kita harus mengatasi sesuatu rintangan, mengekang nafsu dsb. Dan apabila kita lulus dalam menghadapinya, majulah kita setapak kedepan/keatas.
Saudara para Tuntunan Yth.
Tuntunan adalah pengabdi. Jadi
harus menjunjung dan menghormati warganya.
Dengan demikian Warganya akan berbuat lebih mencintai dan menghormati Tuntunannya. Bukankah pengabdian Tuntunan itu sebenarnya adalah
pendidikan martabat pribadi sendiri ?
Jadi ejekan2, cemoohan2 itu sebenarnya adalah penilai, seberapa jauh ketenangan dan kesabaran Saudara.
Ingatlah akan ucapan2:
Wani ngalah luhur wekasane.
Mengalah Saudara2, bukan berarti kalah.
Tetapi mengalah untuk menang, untuk mencapai budi luhur.

Saudara2 Yth.
Khodrati manusia seharusnya mencintai sesama. Sebab sifat itu adalah sesuai dengan saat terjadinya.
Bukankah sewaktu kita ini tercetak, situasi/suasana Bapak dan Ibu dalam keadaan2:
-- saling mencintai secara ikhlas dan jujur.
-- gembira.
-- semangat ???
Mengapa kita tidak mau mencintai sesama ?
Dan sekarang menjadi pemalas serta pemurung ?
Ingatlah Saudara2 pada purwa duksina. (purwa = wiwitan. Sina = putih)
Dengan itu, ini bisa terlaksana apabila jalan2 yang tersebut diatas ditempuh.
Isteri yang sejati harus sehidup semati.
Ini bukan berarti istri (wanita) biasa, tetapi suatu kias, perlambang kesatuan yang erat antara jasmani & rokhani, atau antara Adam dengan Kawa.
Jadi tubuh yang sempurna disertai budi pakarti yang luhur. Memberikan darma hidupnya secara tulus dan ikhlas, tanpa pamrih.

Saudara2 Tuntunan Yth.
Usahakanlah tugas Tuntunan dapat dilaksanakan.
Misalkan saja sebulan sekali,
Tuntunan Propinsi menemui/ saling bertemu dengan para Tuntunan Karesidenan -- Karesidenan dengan Kabupaten --
Kabupaten dengan Kecamatan/ Tuntunan Sanggar.
Tiap Tuntunan seyogyanya mengadakan penyelidikan dan penelitian terhadap pengolahan/ pelaksanaan ajaran A.S.D. terhadap para warganya.
Baik mengenai kesempurnaan2 sujudnya maupun darma hidupnya.
Semua kerja supaja didiskusikan dan hasilnya dicocokkan. Dengan demikian terdapat keseragaman.

Saudara2 Yth.
Saudara2 telah sampai pada penelitian, penyempurnaan pasujudan. Ini berarti sampai pada taraf penyempurnaan getaran. Jadi Saudara telah berusaha menajami tajamnya Sapta Rengga, pribadi sendiri.
Saudara akan sampai pada taraf2 lanciping (tajamnya) pangandika (tutur kata) dan kewaspadaan.
Karena itu jangan gegabah dengan tutur kata.
Karena orang yang telah menggali meneliti dan mengolah getaran-getarannya, tutur kata/ sabdanya gawat keliwat-liwat, tajamnya melebihi pisau cukur.
Ini kami ingatkan, agar tidak nemahi/ mengenai diri sendiri.
Jagalah, hingga selalu bertutur kata yang baik.

Saudara2 membangun Candi Sapta Rengga (mata 2, telinga 2, lubang hidung 2, mulut 1 (= 7) , biar tajam / waspada/ waskita.
Karena itu banyak rintangannya. Tercapai tidaknya terserah pada usaha Saudara2 sendiri. Bila dapat, Saudara2 akan menjadi Satria Utama, manusia pelopor yang dapat menghayu-hayu bahagianya dunia.

Bapak2, Ibu2 Yth.
Dalam kehidupan rumah tangga, kami pesankan senantiasa dalam kedamaian. Jangan mudah bertengkar. Jadilah pasangan yang rukun.Seperti mimi & mintuna.
Dalam mencarikan pasangan hidup putera-puterinya atau dirinya (bagi sekarang yang belum berpasangan)
ajarlah mengadakan penelitian yang sempurna, supaya kelak tidak pecah lagi.
Didalam persetubuhan, rasa manunggal/ bersatu, yaitu manunggaling rasa cahya dan Air putih yang berasal dari makanan. Ini menimbulkan air rasa, air cahaya, air rasa, air mani.
Jadi: dalam kesukaan (persetubuhan), air putih keluar, dalam kesukaran (kesusahan), air mata keluar.
Karena itu hindarilah percekcokan dalam rumah tangga, supaya tiada timbul kesukaran.
Perjodohan yang sejati seperti mimi & mintuna berarti :
-- menimbulkan ketenteraman.
-- penghematan/ biji manusia, dan pemeliharaan.

Ini mengakibatkan lahirnya keturunan yang baik.

Ibu2 Yth.
Ibu2 banyak yang masih kabotan tapih/ pinjung.
Jadi Ibu2-pun perlu menggali dengan jalan menyempurnakan sujudnya. sehingga nanti dapat menguasai getarannya. Ini banyak berguna bagi Ibu2.
Suatu contoh saja:
Apabila Bapakmu pergi, maka eningkan.
Apabila dadanya terasa berdebar keras (di “RA”), maka cegahlah dengan bujuk rayu (esem dsb.-nya), supaya Bapak tak jadi pergi. Sebab apabila jadi pergi, maka akan terjadi hal2 yang tak diinginkan. Misalnya saja Bapak akan berlaku serong, ada halangan dsb.
Apabila tidur bersama, Ibu harus dikiri Bapak.
Mengapa ?
Ini usaha mencocokkan rasa dengan pangrasa Adam dan Kawa.
Dalam pewayangan: kiwa berarti lorek = jelek.
Tapi bukan berarti bila Ibu dikiri Bapak lalu berarti Ibu itu jelek, ooo tidak sama sekali.
Ini dimaksudkan supaya terjadi keseimbangan jalannya Ibu dengan Bapak.

Bapak2, Ibu2. Semua Hadlirin Yth.
Dengarkan, camkan dan rasakan baik2 apa yang akan kami katakan ini.
Sabdaning Sri Gutama.
"A.S.D. akan jadi pedoman, pegangan (panutaning) para umat sedunia".
Apabila bohong/ mlesed Sabdaning dan panjangkaning Sri Gutama, berarti bukan sabdaning Panuntun Agung Agama Sapta Darma.
Wahyu alam, pepadanging donya jatuh di Negara kita.
Saudara2 semua kinudang-kudang (diharapkan sekali) menjadi manusia Satria Utama yang akan mempunyai watak berbudi bawa leksana, sanggup menghayu-hayu bahagianya dunia.
A.S.D. dan Warga A.S.D. akan menjadi pepadang, dan selalu bersinar laksana Surya.--
Bohong Sabdaning Sri Gutama, berarti bukan Sabdaning P.A. agama Sapta Darma.

Saudara2 Yth.
Saudara2 akan jadi pelopor orang2 yang terpilih.
Untuk itu harus memiliki toya yang wening.
Memiliki toya ingkang wening dapat digambarkan Air suci/ bersih.
Caranya memiliki ialah Sdr.2 harus berani dan mau membersihkan dunia pribadinya. (Ngresiki jagading pribadi).
Memiliki toja ingkang wening dapat digambarkan sbb:
Ibarat mengambil air sumur (sumber = mata air) ditaruh dalam gelas untuk diminum. Apabila air itu diendapkan (dileremake), maka bagian atasnya (bagian yang bersih), bila diminum akan lebih nikmat/ enak, dari pada apabila air itu langsung diminum. Air yang bersih tersebut apabila diberikan pada orang lain, lebih2 yang kehausan ( haus pegangan hidup), akan terasa lebih seger sumjah, enak sekali.
Jadi air yang jernih lebih bermanfaat.
Ini berarti Saudara2 harus selalu perlu mengendapkan/ menyaring getaran2-nya. agar hasil yang baik, apabila didarmakan, akan terasa nikmat dikenyam orang lain.
Sekian: 23.29.
- - - - - - - - - - - - - - - -- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Fatwa fase ke II dimulai jam :02.15.
Saudara2 Yth.
Kini kami berpesan pada para Ibu.
Ibu2 Yth. yang pertama , disini akan kami betulkan sikap sujud yang susila.
Adapun cara2 penelitian sujud yang sempurna, telah dengan panjang lebar diuraikan, dan yang diulang oleh pembicara yang lain.
Sujud yang susila bagi para Ibu, ialah
bila sedang membungkuk, sekali-kali janganlah mengangkat pantatnya.
Didalam sujud, sesudah selesai, banyak Ibu2 yang berkata, bahwa ia mengetahui apa2. Itu tidak benar.
Itu palsu.
Jadi mulai sekarang jangan sering membuat tahu apa2, dengan harapan biar disebut orang waskita dsb.nya.
Kalian kami ajar/ tuntun pada tabiat yang jujur jadi jangan suka membohong.
Jangan membohongi pribadinya sendiri ya Ibu ?
Dampingilah Bapak2 ini. Biar rumah tangga yang bahagia, damai dan sentausa. Hindarilah percekcokan, agar keruntuhan rumah tangga dapat terjaga/ terhindar. Ingatlah bahwa kebahagiaan rumah tangga adalah sendi daripada kebahagiaan masyarakat.

Para Hadlirin Yth.
Semua pesan kami, kami harap dilaksanakan. Semua itu hanya demi kebahagiaan Bapak2, Ibu2 sendiri. Marilah be-ramai2 dan ber-sama2 memberikan darma/ amal perbuatan kepada semua umat.
Sembuhkanlah orang2 yang menderita sakit !
Apabila mengobati,
caranya seperti yang telah Saudara kenal, atau seperti yang diuraikan dalam buku.
Lihatlah pasien sdr. dengan penuh,
bila lidah Saudara telah bergetar, Sabdalah "Waras".
Ini adalah salah satu usaha dalam mencari keutamaan.
Sebab apabila terjadi kesembuhan dalam usaha kita tersebut, maka kita senang. Suatu kesenangan yang tak bisa dibeli. Karena ia tak mau diberi upah, maka si pasien merasa berhutang budi. Karena itu si pasien tersebut akan senantiasa ingat kebaikan yang diterima, sehingga ia akan mendoakan kebaikan. Doa ini akan bisa menambah kekuatan pada yang menyembuhkan tadi.
Apabila sewaktu akan menyabda itu timbul rasa keraguan, dan ada dorongan harapan pamrih (balas jasa), maka sabdanya tidak akan mandi (ampuh)(tidak mempunyai kekuatan penyembuhan).

Saudara2 Yth.
masuk A.S.D berarti mencari jalan untuk mencapai keutamaan/ keluhuran budi.
Jadi bukan tempat untuk mencari harta benda. kekayaan materiil.
Jadi yang bisa diperoleh adalah kebahagiaan,
karena ia dalam Sapta Darma akan mendapatkan ketenteraman, ketenangan dan kesabaran.
Dan itu benar2 diperoleh apabila dalam tingkah hidupnya melalui jalan Tuhan.
Perjuangan hidup, apalagi keluhuran, akan berlangsung terus sampai ia mati.
Dan kita akan mengenyam apa arti hidup bahagia, abadi, apabila kita duduk dalam kebijaksanaan, keluhuran, dan kewibawaan.
Akhirnya sebagai penutup: Selamat jalan. selamat berjuang, selamat berhasil (sukses) dalam mengejar kebahagiaan, kesempurnaan hidup didunia dan akherat, demi menghayu-hayu bahagianya dunia.
Sekian
Jam 03.25

Sabtu, 18 Desember 2010

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 28)



Permohonan yang dikabulkan.
Dalam menjalankan ritual sujud ini, para mitra makin rajin melakukan sujud. Begitu pula Pak Arjo. Walaupun demikian, masih ada hal yang menjadi pertanyaan disanubari semua orang yang menjalankan ritual sujud ini. Apakah ritual sujud ini hanya demikian saja, ataukah ada makna dan maksud tujuan tertentu ?
Pada saat itu, Pak Arjo menerima petunjuk dari Hyang Maha Kuwasa, bahwa cara sujud yang demikian ini disebut sujud Brahmono Resi. Dan Pak Arjo mendapat sebutan Resi Brahmono.
Kepada para mitranya, Pak Arjo menerangkan bahwa sujud yang demikian itu adalah sujud Brahmono Resi. Semua mitranya dapat disebut Resi Brahmono bila melakukan sujud seperti cara itu.
Selanjutnya, Pak Arjo mohon ijin Hyang Maha Kuwasa, menggunakan nama Sri Gutomo sebagai sarana menyebarkan budi luhur itu.
Permohonan dikabulkan, dan pada tanggal 27 Desember 1955, disaksikan hujan lebat semalam penuh, Pak Arjo mendapat nama Sri Gutomo yang artinya Raja Budi Luhur.
Para pembaca, semoga anda dapat memahami, bahwa semua permohonan , bila dilakukan dengan tulus ikhlas dalam hati, tentu dibelakang hari akan dikabulkan oleh Hyang Maha Kuwasa.

free counters

Senin, 14 Desember 2009

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 27)

Wahyu Sapta Darma

Turunnya wahyu Sapta Darma.
Didalam melakukan ritual sujud, para mitra Pak Arjo masih belum mengetahui, peristiwa apa yang akan terjadi. Walaupun demikian, makin banyak orang yang ikut menjalankan sujud, sebab dapat merasakan rasa tenteram dalam hati sanubarinya. Lebih lagi kemudian banyak yang memperoleh berkah berwujud gambar bermacam-macam tatkala menjalankan sujud ini. Gambar-gambar tersebut dinamakan sanepan atau sanepo atau kias. Pak Arjo melarang orang-orang menerangkan arti gambar tersebut secara umum. Sanepan harus diterangkan secara rasa, sebab itu adalah wejangan rasa.
Ada pertanyaan dalam menjalankan ritual sujud ini, yaitu: bila ritual sujud ini memang kehendak Hyang Maha Kuwasa, lantas apa tujuan sebenarnya. Pak Arjo juga tak mengetahui, apa kehendak Hyang Maha Kuwasa. Siang malam hanya sujud mengharapkan rahmat dari Hyang maha Kuwasa.


12 Juli 1954
Pagi hari itu, dirumah Pak Arjo hadir enam orang yang melakukan sujud. Pak Darmo, Pak Kemi, Pak Danu Miharjo, Pak Joyo Sadji, Pak Diman dan Pak Arjo.
sekitar jam 11.00, tak ada yang mengetahui dari mana asalnya, secara tiba-tiba tampak suatu gambar berwarna dimeja pak Arjo. Gambar ini sebentar tampak, sebentar lenyap dari pandangan. Tak ada yang menyuruh, tiba-tiba Pak Diman berdiri sambil menuding kearah meja tersebut sambil berteriak keras :"Ini harus digambar".
Demikian dikatakannya berkali-kali.
Seketika itu pula para mitra yang berada disitu kaget, dan segera keluar untuk membeli kuas dan cat. Ternyata, gambar tersebut tak hanya tampak di meja saja. Didinding ruangan dan ditopi para mitra juga tampak gambar itu. Malahan dibadan Pak Arjo juga terlihat gambar tersebut, sebentar kelihatan, kemudian menghilang, dan tampak lagi.Begitu berulang-ulang.
Toko cat hanya berjarak seratus meter dari rumah Pak Arjo. Karena itu, tak lama kemudian yang membeli cat sudah kembali. Pak Diman yang disuruh menggambar, sebab memang pandai menulis dan menggambar dengan bagus. Gambar itu digambar langsung pada permukaan meja.


Pada gambar tersebut tertulis tulisan dalam huruf Jawa. Diatas lingkaran tertulis Sapto, sedangkan dibawah lingkaran tertulis Darmo. Mengelilingi lingkaran tertulis Napsu, Budi, Pakarti.
Gambar Semar didalam lingkaran digambar Pak Arjo sendiri. Menurut Pak Kemi, ketika menggambarnya sambil mendendangkan lagu yang isinya mengungkapkan puji sjukur pada Hyang maha Kuwasa yang telah memberi rahmat pada umatnya didunia ini.
Setelah selesai proses menggambar ini, gambar tersebut lenyap.

Selanjutnya tampil tulisan yang tertulis dalam huruf Latin yaitu :

Wewarah Pitu
1. Setya tuhu marang ananing Pancasila Allah
Allah Hyang Maha Agung,
Allah Hyang Maha Rokhim,
Allah Hyang Maha Adil,
Allah Hyang Maha Wasésa,
Allah Hyang Maha Langgeng.
2. Kanthi jujur lan sucining ati,kudu setyo anindakaké angger-anggering negarané.
3. Mèlu cawé-cawé acancut tali wanda njaga adeging nusa lan bangsané.
4. Tetulung marang sapa baé yèn perlu,kanthi ora nduwèni pamrih opa baé kajaba mung rasa welas lan asih.
5. Wani urip kanthi kapitayan saka kekuwatané dhéwé.
6. Tanduké marang warga bebrayan kudu susila kanthì alusing budi pekerti tansah agawé pepadhang lan mareming liyan.
7. Yakin yèn kahanan ndonya iku ora langgeng tansah owah gingsir ( anyakra manggilingan ).

Selama proses penulisan, Pak Arjo memperhatikan dan mencocokkan tulisan tersebut dengan tulisan didinding yang kadang terlihat, kadang lenyap.
Selesai semuanya, tulisan didinding tersebut juga lenyap, digantikan tulisan:
Sesanti
Ing ngendi bae, marang sapa bae, warga sapta darma kudu sumunar pindo baskoro.


free counters

Selasa, 08 Desember 2009

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 26)

Wawasan hal 26

Racut
Racut itu mengandung arti lepas atau melepas. Racut baju kebesaran raja berarti melepas baju yang dikenakan. Apa yang hamba maksudkan racut disini adalah lepas atau perginya Hyang Maha Suci yang akan menghadap Hyang Maha Kuwasa.
Sudah diceriterakan diatas, bahwa Hyang Maha Suci itu yang menguasai kehidupan jasmani setiap orang. Bila jasmani ditinggalkan Hyang Maha Suci, tentu lemas raganya seperti wayang kulit Gatotkaca yang kehilangan sarana penegaknya (gapit).
Warga Sapta Darma tidak menyebutkan roh, jiwa, nyawa sukma dan lain-lain sebagainya, karena sudah mengetahui bahwa itu adalah Hyang Maha Suci, utusan Hyang Maha Kuwasa, yang ditugaskan memelihara jasmani manusia. Menyebut Hyang Maha Suci juga menunjukkan bahwa mengetahui yang menghidupinya. Umumnya, ditempat manapun, setiap orang selalu menyebutkan bahwa yang mengatur kehidupannya adalah Hyang Maha Kuwasa.
Melakukan ritual racut ini, tidak semaunya sendiri. Harus sujud dulu, dan kemudian ditambah satu sujudan lagi dengan ucapan "Hyang Maha Suci menghadap Hyang Maha Kuwasa". Bila direstui, artinya diberi sarana untuk hal itu, maka akan terlaksana sampai ketempat yang dituju.
Tatkala Pak Arjo masih berada bersama warga, ritual racut mudah dilaksanakan setiap saat. Walaupun begitu, Bila sekarang ada yang menginginkan, juga bisa terlaksana asalkan telah dapat membersihkan pribadinya dengan melakukan sujud yang tekun.
Bopo Sri Gutomo memberi tahu bahwa racut itu ritual yang rumit, bukan karena sulit, tetapi karena harus meneliti dulu keseluruhan kondisi tubuh. Harus diteliti dengan cermat agar semuanya berjalan sempurna, sebab akan ditinggal pergi Hyang Maha Suci. Ini yang disebut tunduk serta patuhnya saudara sebelas yang mengatur fungsi tubuh manusia.
Pada tahap awal, para warga dibimbing dalam ritual penggalian yang dilakukan selama dua belas malam atau enam hari siang malam.
Dalam hal ritual penggalian ini, hamba sarankan bertanya pada tuntunan penggalian yang bertugas untuk menerangkannya.
Tentang pusaka Nogososro dan Bendo Segodo, hamba kurang memahami, namun bila pembaca ingin tahu, dibawah ini ada gambar dan keterangan sekadarnya, yang telah hamba ambil dari internet.
***********
Para pembaca yang terhormat,
Ritual racut itu sesuatu yang amat langka. Tak terbatas hanya Pak Arjo saja yang mampu melakukannya. Para mitranya juga berhasil menjalankan ritual ini dengan mengikuti petunjuk Pak Arjo, walaupun sesungguhnya semua itu atas perkenan Hyang Maha Kuwasa. Peristiwa ini menunjukkan bahwa siapa saja bisa menghadap Hyang Maha Kuwasa dengan cara melakukan ritual racut.
Diceriterakan, sehabis racut, setiap orang merasa menerima/memegang bermacam gambar. Ada yang memegang bunga, yang lain memegang wayang kulit Arjuno atau Kresno dan sebagainya. Sedangkan Pak Arjo, setiap selesai melakukan racut, selalu merasa memegang gambar wayang Semar.
Menurut pendapatnya, semua itu adalah lambang yang mengkiaskan kepribadiannya.
Sebagai contoh, tatkala Pak Arjo melakukan racut, merasa menerima baju kebesaran kerajaan. Setelah mendekati kesadaran, pakaian tersebut seolah tetap masih menempel dibadan dan tak berubah bentuk. Hal ini menunjukkan bahwa kepribadiannya laksana raja yang berbudi luhur. Berbeda dengan Pak Kemi, tatkala melakukan racut juga menerima baju kebesaran kerajaan. Setelah kembali kesadarannya, merasa baju tersebut masih menempel ditubuhnya, hanya bentuknya berubah menjadi "klaras" yaitu daun pisang yang kering. Ini adalah pertanda yang menyatakan bahwa Pak Kemi itu adalah orang yang dapat menyelaraskan (klaras) kehidupannya dengan masyarakat sekelilingnya. Artinya dapat menyesuaikan diri dengan semua orang, kaya miskin, laki-perempuan, tua-muda, orang baik atau jahat.
Orang yang merasa memegang bunga, menandakan bahwa membawa nama harum, artinya, setiap orang membicarakan pribadinya yang baik. Oleh sebab itu, apa yang diterima Pak Arjo pada saat melakukan racut, tentu tak sama dengan perolehan para mitranya.
Pada kesempatan yang baik ini, hamba ingin menunjukkan gambar-gambar yang mungkin dapat menambah wawasan para pembaca. Semua gambar ini di"donlod" dari internet. Juga disertakan alamatnya, barangkali ada yang berminat "browsing"


SUMUR GUMULING
http://kratonjogja.com/isi.php?menu=heritage&lang=ina&sub=3
Nama Sumur Gumuling itu berarti dari Sumur yang mana Makmum (Umat)-nya berada di sekelilingnya. Imam yang memimpin tidak perlu menggunakan pengeras suara karena konstruksi bangunan yang melingkar menyebabkan adanya gema yang menyebabkan suara menjadi lebih keras.
Sumur Gumuling gb 1
Sumur Gumuling gb 2.
Sumur Gumuling gb 3.
Sumur Gumuling gb 4.
Sumur Gumuling gb 5.

SUMUR JOLOTUNDO
http://www.banjarnegarakab.go.id/menu.php?name=Halaman_Potensi&sop=lihat_halaman&artid=57

Sumur Jalatunda berasal dari kawah yang telah mati ribuan tahun yang lalu kemudian terisi air sehingga menyerupai sebuah sumur raksasa.
Sumur ini mempunyai garis tengah kurang lebih 90 meter dan kedalaman ratusan meter. Ada kepercayaan penduduk setempat jika seseorang berhasil melemparkan batu menyeberangi sumur tersebut, maka segala keinginannya akan terlaksana. Bahkan air sumur Jalatunda mempunyai kekuatan magic sehingga banyak dimanfaatkan wisatawan.
Sumur jolotundo GB 1.
Sumber : DISPARBUD Banjarnegara

http://smulya.multiply.com/photos/album/57#photo=1.jpg
Sumur Jolotundo gb 2.

http://smulya.multiply.com/photos/album/57#photo=3.jpg
Sumur Jolotundo gb 3.



KERIS NOGOSOSRO
http://kerisindonesia.blogspot.com/2006/02/keris-nogososro.html

Konon keris ini dibuat saat Majapahit (era pemerintahan Brawijaya IV, 1466 – 1478 M), terancam oleh issue pemberontakan Blambangan. Info ini didapat dari intelijen bahwa Adipati Blambangan akan mengadakan pemberontakan. Sang Prabu langsung mengeluarkan “inprab” (instruksi prabu … () yg isinya agar para Empu menyiapkan berbagai senjata guna menghadapi Blambangan. Seorang Empu bernama Pangeran Sedayu berhasil menyelesaikan sebilah keris berlekuk 13, yg kelak terkenal dengan sebutan keris Kanjeng Kyai Nogososro. Menurut kepercayaan yang ada, akhirnya Majapahit berhasil meredam berbagai bencana dari segala penjuru. Blambangan ditahlukkan. Pangeran Sedayu, bergelar Empu Supo Mandrangi.
http://upload.kapanlagi.com/images/thumb/20080826102933_Nagasasra_resize_48b3789d08bf9-t.jpg
Keris Nogososro
Keris ini berdapur Nagasasra, kinatah emas dan warangka ladrang Surakarta. Pendhok-nya bertabur intan
Nogo Sosro - Kinatah Emas
Tangguh Mojopahit
Warangka Ladrang Gaya Surakarta
Kayu Benggol Jati/ Tunas Jati
Pamor Sisik Ular
Dapur Luk 13 - Sangkelat
Fungsi : Kekuasaan / Kejayaan / Wibawa / Drajat

Keris NogoSosro gb 1.

Keris NogoSosro gb 2.

KERIS BENDO SEGODO
http://www.indomarketsite.com/product/detail/1
Deskripsi Produk

keris ini adalah pusaka peninggalan Sultan Hamengku Buwono IX. Berjenis pamor bendo segodo terlihat dari bentuknya menyerupai bulatan menggumpal dari bawah keatas. Tuahnya untuk jalan rejeki dan pergaulan serta ketentraman rumah tangga. Tergolong tidak pemilih.
http://www.heritageofjava.com/
BENDO SAGODO, pamor yang gambarnya merupakan bentuk gumpalan yang mengelompok rapat, masing masing gumpalan terpisah jarak 0.5 cm – 1 cm dan tergolong pamor rekan. Tuahnya gampang mencari rezeki dan pamor ini tidak pemilih.
Bendo Segodo
Tangguh Tuban / Majapahit
Warangka Sandang Walikat
Kayu Sawo
Pamor Bendo Segodo
Dapur Tilam Sari / Brojol
Fungsi : Kerejekian
Keris Bendo Segodo

free counters
Catetan: blog puniko mawi label :
boso, budi, darma, darmo, Gutomo, Hyang, jawi, jowo, Kuwasa, Kuwoso, lelampahan, Maha, sapta, sapto, Sri, wahyu, warga, wargo, Widhi

Minggu, 06 Desember 2009

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 25)

Rasanya dilindungi Hyang Maha Kuwasa.

Mengawali kesanggupan menerima penugasan
Seiring perjalanan waktu, pelaksanaan sujud ini tetap dilakukan oleh Pak Arjo dan mitra terdekatnya. Tak ada yang merasakan lelah apalagi menderita sakit dalam menjalankan sujud ini. Dalam kenyataan, dapat disebutkan bahwa semua rasa letih lesu , linu di persendian dan lain-lain seolah-olah menjauh dari badan.
Para handai taulan makin banyak yang ikut menjalankan sujud ini. Dapat disebut namanya, misalnya Pak Reso Kasirin (juragan kain batik) yang cukup kaya tetapi tidak punya anak, Pak Darmo (ipar Pak Soma Giman), Pak Danu Miharjo, Mantri guru Sekolah Dasar, Pak Jumadi, sopir angkutan barang, Pak sersan Diman, keponakan Pak Kemi dan yang lainnya yang belum hamba sebutkan karena keterbatasan hamba dalam menemukan sumber keterangan dalam hal ini.
Semua orang telah merasakan rasa tenteram dalam pribadinya. Tidak hanya sampai disitu saja, banyak yang menyatakan bahwa ketika menjalankan sujud, merasakan adanya perubahan suasana alam . Seolah sujud ditempat yang keindahan dan kenyamanannya tak terbayangkan. Walaupun pelaksanaan sujud dilakukan dirumah masing-masing, baru sebentar mata terpejam, langsung merasakan perubahan alam. Seolah sujud ditempat berbeda. Menurut Pak Kemi, hal demikian ini menandakan bahwa pelaksanaan sujud itu diberkati. Setelah Pak Sri (Pak Arjo) wafat, fenomena seperti ini jarang dirasakan, atau dapat dirasakan jika pelaksanaan sujud dilakukan dengan tekun dan kesungguhan hati.

Wahyu racut.
12 Februari 1953
Malam ini, banyak yang melakukan sujud dirumah Pak Arjo Sopuro. Selesai sujud, Pak Arjo memberi tahu agar besok pagi datang lagi, sebab akan menerima pelajaran baru.
Tanggal 13 Februari 1953
Pada pagi hari itu, hadir Pak Kemi, Pak JoyoJaimun, Pak Somagiman, Pak Darmo, Pak Reso Kasirin, berkumpul dirumah Pak Arjo Sopuro. Sekitar jam 10.00 pagi, ditengah-tengah pembicaraan, tiba-tiba Pak Arjo menghentikan pembicaraan itu dan selanjutnya berkata dengan jelas. "Teman-teman,lihat, ini aku akan mati, amat-amatilah". Semua jadi bingung dan jantungnya berdegup keras. Pak Kemi bergumam, "Apa jadinya kalau mati beneran". Selanjutnya Pak Arjo berbaring dengan kepala diarah Timur dan kaki kearah Barat. Kedua tangan bersidakep didepan dada. Ujung jari kanan menutupi ujung jari kiri ditempat yang disebut "CO". Kedua kaki saling merapat. Ini mirip keadaan orang mati.
Setelah menunggu sekitar seperempat jam, para mitra makin kebingungan. Selanjutnya ada yang meraba badannya, menempelkan telinga kedada. Tak terasa detak jantung ataupun napasnya. Ada yang memijit-mijit kakinya. Tak terasa ada tanda-tanda kehidupan. Dalam keadaan bingung itu akhirnya menyerah pasrah. Bila memang sudah sampai akhir hayatnya, andai disembunyikan dalam gedung besar dan terkunci rapat, kematian pasti datang menjemput.
Beberapa saat kemudian, perlahan-lahan tangannya bergerak. Membuat gembira mitra-mitra yang menunggunya. Tak begitu lama antaranya, kaki dan badannya mulai bergerak pula. Kemudian duduk termangu-mangu.. Barulah para mitra merasa lega. Hilang rasa kekhawatiran yang meliputi sanubari.
Setelah beberapa saat, pak Arjo mengucapkan kata "RACUT". Kata racut ini diucapkan secara tiba-tiba. Berikutnya Pak Arjo menceriterakan pengalaman yang disebutnya racut itu. Dalam keadaan racut itu, Pak Arjo melihat raganya tergeletak dilantai, dihadapan para mitranya. Selanjutnya merasa masuk kedalam tempat yang sangat indah tak terkirakan. Tak bisa menggambarkan keindahan tempat itu yang demikian sempurna. Kemudian masuk bangunan yang didalamnya ada tempat semacam pengimanan. Disana Pak Arjo Sopuro melakukan sujud. Selesai sujud tampak didepannya bayangan seorang raja yang bersinar menyilaukan. Sinarnya melebihi cahaya sejuta matahari. Pada saat itu Pak Arjo merasa dibopong dan dibawa kesuatu tempat yang terdapat dua sumur penuh air. Dalam pengertiannya itu adalah Sumur Gumuling dan Sumur Jolotundo. Setelah memperhatikan kemudian merasa diberi dua bilah pusaka keris yaitu Nogososro dan Bendo Sugodo. Selesai sudah proses itu. Selanjutnya merasa pulang kembali. Dalam perjalanan pulang itu merasa diikuti bintang yang besar sampai tersadar dihadapan para mitranya.
Inilah pengalaman racut yang fenomenal.
Pada kesempatan ini para mitranya dipersilahkan untuk mencoba melakukan ritual yang sama. Caranya, setelah melakukan sujud kemudian ditambah satu sujudan lagi dengan ucapan : "Hyang Moho Suci sowan Hyang Moho Kuwoso". Kemudian badan berbaring seperti yang telah dilakukan Pak Arjo dan seterusnya.
Banyak yang merasakan pengalaman sama, racut atau mati dalam keadaan hidup. Tatkala dalam keadaan racut, mendengar semua yang terjadi disekitarnya, tetapi tak dihiraukankan. Mengalami fenomena yang sama, bertemu Raja yang bercahaya menyilaukan, walaupun tidak dibopong atau diberi pusaka keris, dan setelah itu tersadar.
Pak Arjo mengingatkan, bahwa proses ritual racut ini amat rumit. Harus dlandasi dengan kebersihan rohani dan jasmani, barulah diharapkan dapat terlaksana. Bahwa para mitranya mampu melakukan racut saat itu karena memang mendapat berkah dari Hyang Maha Kuwasa.
Para pembaca, peristiwa yang baru terjadi ini disebut wahyu racut. Merasakan keadaan mati dalam hidup. Bila ingin melakukan ritual ini, pilihlah waktu leluasa, sebab tak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa. Begitu pula carilah tempat yang tenang, jauh dari keramaian. Disarankan pula ada orang yang mengamati dan menjaga agar tak ada yang mengganggu.

free counters

Sabtu, 15 Agustus 2009

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 24)

Wawasan hal 24

Permohonan yang kemudian memperoleh berkah budi luhur.
Pada awalnya, keinginan hanya sebatas memperoleh penghasilan yang agak baik, agar tidak terlalu menderita dalam menempuh kehidupan sehari-hari.
Sekarang, setelah mengetahui bahwa sujud ini langsung dapat berhubungan dengan Hyang Maha Kuwasa, yang menurutnya dapat memberi apapun yang diminta, lantas mempunyai keinginan yang lebih tinggi atau luhur. Walaupun tidak diminta dengan ucapan, semua yang tersimpan dalam sanubari, mendapat berkah.( Warga Sapta Darma tidak diperkenankan menyebutkan permintaan dalam melakukan sujud ).
Didalam sanubari Pak Arjo hanya ada keinginan untuk menyebarkan perihal sujud ini keseluruh dunia.
Inilah yang hamba sebutkan sebagai permohonan yang kemudian memperoleh berkah budi luhur.
Sekian dulu.


free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 23)

Wawasan hal 23

Kesetaraan dalam hidup.
Wahyu , berdasarkan buku-buku yang hamba baca dan menurut cerita para warga Sapta Darma, berupa perintah atau pengertian dari Hyang Maha Kuwasa. Tetapi yang ditugasi membawa atau mengabarkan berita itu, tak pernah diceritakan. Tak ada yang disembunyikan, tetapi memang tak ada yang menanyakan hal tersebut tatkala Bopo Sri Gutomo masih bersama kita. Oleh sebab itu, peristiwa yang hamba tulis dalam “Kesetaraan dalam hidup” itu, dapat disebutkan sebagai salah satu wahyu, yang memberi pencerahan, bahwa sesama hidup tak ada yang harus disembah. Kita hanya menyembah pada Hyang Maha Kuwasa .


free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 22)

Wawasan hal 22


Melakukan ritual kerohanian
“Ilmu pengetahuan diperoleh dengan ketekunan dalam bersusah payah belajar”. Dalam hal ini para pembaca tentu telah mengetahuinya. Karena itu, walau Pak Arjo adalah orang awam, tidak pernah berguru mencari ilmu kebatinan, tentu mengetahui bahwa semua peristiwa yang telah terjadi itu, harus disertakan sarana ritual tertentu.
Sebelumnya telah diceritakan bahwa ketika bersama mitranya mencari “orang tua”, setiap ada pelajaran baru, Pak Arjo tak mampu melakukan apa yang diajarkan pada hari itu, namun dilain waktu, senantiasa mampu melakukannya. Para mitranya kemudian berpendapat bahwa Pak Arjo telah punya “Guru”, namun siapa, dan dimana tempat tinggalnya. Inilah tujuan pembicaraan ini. Lebih lagi tatkala mengatakan “Aku akan diwejang Guru” pada Pak Kemi (pagi hari sebelum malam penerimaan wahyu sujud). Kesimpulannya, ritual kerohanian yang tak umum dilakukan dengan cara memandang matahari itu tentu atas perintah “Guru”nya.
Para pembaca yang berbudi luhur, hampir setiap orang warga Sapta Darma memastikan bahwa “Guru”nya adalah Hyang Maha Kuwasa. Tak dapat disalahkan, sebab Pak Arjo , sampai dengan wafatnya , tak pernah menceritakan hal ini. Hamba, yang hanya menerima ceritera ini dari para warga, juga memiliki pendapat yang sama.
Selanjutnya, ketika mengikuti penggalian , ada kalimat “terima wasiat dari Hyang Widhi”. (Mohon mengerti yang tersirat dari yang tersurat tersebut)
Ketika itu, hamba hanya menjalankan apa yang ditunjukkan oleh tuntunan penggalian (Pak Mukmin), tanpa bertanya lebih lanjut. Sekarang hamba agak menyesal, kenapa dulu tidak bertanya hal ini (Hyang Widhi). Hamba mengira bahwa Hyang Widhi adalah juga Hyang Maha Kuwasa. Bagaimana menurut pendapat para pembaca sekalian ? Terutama para warga/ tuntunan KSD.


free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 21)

Hyang Maha Kuwasa mengabulkan semua permohonan.

Permohonan yang kemudian memperoleh berkah budi luhur .
Dalam kurun waktu itu, Pak Arjo dan para mitranya, setiap malam selalu melakukan sujud kepada Hyang Maha Kuwasa. Tak tahu apa yang harus dilakukan, kecuali selalu sujud saja setiap malam hari.
Setelah mengerti bahwa semuanya adalah kehendak Hyang Maha Kuwasa, semakin tekun melakukan sujud.
Kembali pada awal tujuan sebelumnya, tentang keinginan ketika itu, tatkala bersama-sama mencari “orang tua” , semua orang memiliki keinginan sama, yaitu agar memperoleh rejeki yang agak cukup. Sekarang, karena yakin bahwa dihadapan adalah Hyang Maha Kuwasa, kemudian masing-masing memiliki keinginan sendiri, berbeda dengan keinginan asebelumnya.
Pak Soma Giman, yang pada waktu itu bekerja sebagai kernet (pembantu sopir) , sekarang memiliki keinginan punya anak yang banyak dan truk yang banyak pula. Pak Joyo Jaimun, tiap hari selalu berada dilapaknya menunggui dagangan sepatu, sandal dari kulit, punya keinginan agar dagangannya laris. Pak Arjo Sopuro, mempunyai keinginan untuk menyebarkan perihal sujud ini ke seluruh dunia. Sedangkan Pak Kemi menginginkan agar anak cucunya memiliki wawasan budi luhur dan tak tertinggal dari yang lain dalam menempuh kehidupan ini.
Ternyata, apa yang tersirat dalam hati ini terkabul semuanya. Pak Soma Giman yang pada awalnya bekerja sebagai kernet saja, terlaksana memiliki 12 putra/putri dan juga memiliki 17 buah truk. Pak Joyo Jaimun mengalami dagangannya laris sampai akhir hidupnya. Pak Arjo Sopuro, yang kemudian menjadi Tuntunan Agung wargo Sapto Darmo, juga terlaksana menyebarkan ajarannya sampai kemanca negara. Pak Kemi, petani lugu, tak pernah bersekolah, dan hanya memiliki sawah seluas seperlima hektar , semua putranya menjadi perwira menengah, begitu pula putrinya diperistri perwira menengah.
Itulah semua yang telah dicapai oleh para mitra dan Pak Arjo . Pada kesempatan lain, Pak Kemi pernah menambahi ucapannya: “Andaikan Arjo berpendidikan lebih tinggi, tentu Sapto Darmo lebih termasjhur di dunia”


free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 20)

Sesembahan hanya kepada Hyang Maha Kuwasa.

Kesetaraan dalam hidup.
Waktunya masih pagi, tak tercatat hari, tanggal, bulan dan tahun kejadiannya.
Pagi itu Pak Kemi kedatangan seseorang dari Koplakan, atas permintaaan Pak Arjo. Dengan tergesa-gesa menyampaikan pesan Pak Arjo, agar Pak Kemi segera datang kerumah Pak Arjo Sopuro.
Sesampainya disana, melihat kejadian yang sangat menakjubkan. Dengan disaksikan banyak orang, didalam rumah Pak Arjo terlihat peristiwa yang amat langka. Pak Joyo Jaimun jatuh bersujud didepan Pak Arjo yang berdiri kaku didepannya, sambil mengucapkan kata-kata dengan suara keras: “ Aku sujud pada Hyang Maha Kuwasa”. Kejadian ini dilakukan tanpa mampu dicegah. Selanjutnya berganti Pak Arjo jatuh bersujud didepan Pak Joyo Jaimun yang telah berdiri tegak dan kaku didepannya. Pak Arjo juga mengucapkan kata-kata dengan suara keras: “ Aku sujud pada Hyang Maha Kuwasa”. Kejadian ini berulang, ganti berganti sujud tanpa dapat dicegah atau dihentikan. Setelah berlangsung hampir satu jam, disela-sela kejadian, Pak Arjo berteriak dengan keras: “Panggilkan Pak Kemiiiii”, demikian kejadiannya, sampai Pak Kemi datang menyaksikan peristiwa ini. Setelah datang dan melihat kejadian ini, anehnya tak lama kemudian peristiwa ini berhenti.
Setelah istirahat sejenak, Pak Arjo menceritakan bahwa Pak Kemi adalah orang yang ditunjuk oleh Hyang Maha Kuwasa untuk menjadi saksi peristiwa tersebut. Pada akhir cerita, Pak Arjo memberitahu bahwa sesama hidup tak ada yang harus disembah. Sembah hanya untuk Hyang Maha Kuwasa.
Oleh karena itu, tatkala Pak Joyo Jaimun menyembah pada Pak Arjo, tidak mengucapkan “Aku menyembah Arjo Sopuro” , begitu pula tatkala Pak Arjo Sopuro menyembah pada Pak Joyo Jaimun, juga tidak mengucapkan: “Aku menyembah Joyo Jaimun”, melainkan “Aku menyembah pada Hyang Maha Kuwasa”.
Pada peristiwa ini, Pak Kemi hanya menyatakan : “Aku memperoleh sedikit wahyunya Arjo”

free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 19)

Ritual yang tak umum.

Tukang potong rambut dan matahari.
Setelah terjadi peristiwa diatas (turunnya wahyu sujud), Pak Arjo tetap menjalankan rutinitas pekerjaan sehari-hari. Tatkala ada yang akan potong rambut, juga dilayani. Namun, setiap mulai mencukur, tangannya tidak mampu menjalankan tugasnya. Cukurannya morat-marit. Rambut terpotong tak beraturan. Akhirnya para pelanggan menjauh, tak mau potong rambut disitu.
Pak Arjo menganggur. Namun rejeki selalu datang, entah dari mana saja. Keluarga Pak Arjo tak pernah kekurangan makanan. Hal ini berlangsung terus menerus sampai dengan akhir kehidupan Pak Arjo dan Ibu Arjo.
Sejak saat itu Pak Arjo melaksanakan ritual yang tidak umum dilakukan oleh pengikut kebatinan.
Setiap hari, mulai jam 09.00 pagi, Pak Arjo duduk atau berdiri didepan rumahnya, memandang matahari hamper tanpa berkedip. Masyarakat sekitar tidak mengetahui, apa tujuannya melakukan ritual seperti itu. Ritual ini dilakukan mulai jam 09.00 pagi sampai jam 15.00 siang. Yang menyaksikan menyangka Pak Arjo sudah menjadi gila.
Tetapi nyatanya tak terjadi sesuatu apapun. Artinya, kehidupan sehari hari berjalan seperti biasanya.
Yang menimbulkan keheranan orang adalah, perilaku memandang matahari setiap harinya ternyata tidak menimbulkan masalah pada penglihatannya. Tak ada perubahan apapun dalam melihat dan memandang sekitarnya . Sama seperti keadaan sebelum melakukan ritual tersebut.

free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 18)

Melakukan ritual kerohanian
Pak Arjo adalah seorang awam. Tak pernah melakukan ritual kerohanian seperti umumnya orang berguru ilmu kebatinan.
Puasa Senin Kamis, hanya makan nasi putih selama ritual, ritual membisu , apalagi berendam disungai, tidak pernah dilakukan.
Berwatak disiplin, tidak percaya pada hal-hal yang bersifat kasat mata, dan juga sama sekali tak mau menghiraukan makam/kuburan, memberi sesajen pada pohon beringin yang diyakini masyrakat sebagai pembawa keselamatan, juga tidak terhadap segala jenis senjata kuno yang diyakini masyarakat sebagai pusaka bertuah, tombak, keris, dan sebagainya.
Sepanjang waktu, tatkala berpindah pindah tempat bermalam dirumah mitranya , dapat melihat dan mengetahui hal-hal yang sebelumnya tidak terpantau. Misalnya di rumah Pak Kemi, Pakn Arjo mengetahui adanya bermacam tumbal yang dipendam dalam tanah, yaitu tulang babi dan tulisan huruf Arab yang dibungkus kain kafan. Tumbal ini adalah sarana untuk menolak teluh dan juga untuk keselamatan keluarga Pak Kemi.
Selanjutnya, atas perkenan Pak Kemi, semuanya diambil dan kemudian dibuang kesungai.
Ada tumbal yang dinamakan “Cok Bakal” , yang berupa sesajian yang ditempatkan dipojok sawah, itupun diambil dan dibuang kesungai.
Yang lebih aneh lagi, jika makan makanan dari warung, sehabis makan lantas muntah muntah. Setelah ditanya , kemudian memberi tahu bahwa pemilik warung penjual makanan itu melakukan ritual sesajen pada tempat tertentu, agar jualannya laris. Padahal, sebelum ada peristiwa kedatangan wahyu tersebut , warung tersebut menjadi langganan , dan setelah makan juga tak terjadi masalah apapun.

free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Kamis, 13 Agustus 2009

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 17)

Wawasan hal 17

Peristiwa kedatangan wahyu.

Disebutkan bahwa wahyu datang secara tiba-tiba. Tetapi bukan berarti sama sekali tak ada tanda-tanda yang mengawalinya. Setelah merenung dan mengingat ingat, ternyata memang tanda-tanda kedatangan wahyu itu ada, tetapi luput dari pengamatan. Jika mengingat bahwa pada Kamis Pon 26 Desember 1952 sekitar jam 09.00 pagi itu Pak Arjo memberitahu Pak Kemi bahwa ada perintah dari "guru"nya untuk pulang karena akan di"wejang guru", dapat disimpulkan bahwa saat itulah awal kedatangan wahyu tersebut.

Proses tersebut berlangsung terus dengan puncaknya terjadi pada jam 01.00 malam hari sampai jam 03.30. Belum berakhir sampai disitu, sebab mitranya: Pak Kemi dan Pak Joyo Jaimun serta dengan Pak Soma Giman juga merasakan getaran dan gerakan luar biasa tersebut sampai jam 09.00 pagi. Maka proses kedatangan wahyu sujud ini mulai jam 09.00 pagi tanggal 26 Desember 1952 sampai dengan jam 09.00 tanggal 27 Desember 1952.

- - - - - - -

Penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya pada pembaca, terutama para warga Kerohanian Sapta Darma, karena tanpa perkenan telah menulis proses kedatangan wahyu, yang mungkin berbeda dengan apa yang selama ini telah diketahui para Warga. Ada versi yang mengatakan bahwa orang pertama yang diberitahu tentang kejadian luar biasa ini adalah Pak Joyo Jaimun, mengingat rumahnya paling dekat dengan rumah Pak Arjo. Ada pula yang menulis bahwa Pak Soma Gimanlah yang pertama dituju, dengan catatan Pak Soma Giman orang yang memiliki banyak ilmu. Penulis hanya mencatat, bahwa Pak Kemi sampai akhir hayat (tahun 1993) tetap melakukan sujud sebagai cara untuk menyembah Hyang Maha Kuwasa. Beliaupun tak pernah mempermasalahkan, siapa yang pertama kali didatangi Pak Arjo ketika menerima wahyu tersebut.

free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 16)

Peserta wanita pertama.

Catatan
Para sahabat Pak Arjo yang telah menjalani sujud, ada yang tetap melakukan sujud sampai akhir hayat. Tetapi banyak pula yang hanya ingin mengetahui ajaran ini, selanjutnya tidak melakukan sujud lagi. Hal tersebut terserah pada pribadi masing-masing. Dari kalangan putri, Ibu Sukemi adalah wanita pertama yang melakukan sujud.Dan tetap melakukan sujud sampai akhir hayat (tahun 2000). Ibu Arjo Sopuro malah belakangan baru sujud.

free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 15)

Kesaksian para pengikut kebatinan.
Pada waktu itu banyak pengikut kebatinan yang mendapat firasat bahwa akan terjadi peristiwa kedatangan wahyu besar Orang mengatakan "pulung agung". Karena itu, sebagian besar melakukan ritual mengurangi tidur dimalam hari dan bersemadi ditempat tertentu. Ada beberapa orang melihat dengan mata batin, suatu cahaya besar jatuh menuju kampung Koplakan Pare diikuti dengan suara bergemuruh, dalam sanubari. Benar atau tidak, hamba tidak dapat memberi komentar.

free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 14)

Dukun tiban ???

Para sahabat.
Setelah terjadi peristiwa kedatangan wahyu, para sahabat dan mereka yang kenal dengan Pak Arjo, bersama-sama ingin menyaksikan kejadian tersebut, dan kemudian melakukan sujud seperti Pak Arjo. Ternyata gerak tubuh itu tidak terbatas pada sujud saja. Ketika Pak Joyo Jaimun berkata “Aku ingin mengetahui gerak tubuh Sukmo Nogo (Sukma Ular Naga)”, seketika itu pula badannya terbanting kemudian bergeliat-geliat seperti pergerakan ular. Begitu pula tatkala berkata ingin mengetahui gerak Mayonggo Seto (Kera Putih), saat itu pula berceloteh seperti kera dan meloncat-loncat kesana kemari. Latihan ini dilakukan pada malam hari. Terkadang ada suara auman layaknya auman singa, suara kaki berdebugan seperti latihan bela diri dan sebagainya.
Rumah Pak Arjo berdinding gedeg (anyaman bambu) yang berlubang-lubang. Para tetangga sering mengintip dari celah-celah dinding anyaman bambu itu. Salah seorang , ketika sedang asyik mengintip, matanya disengat kalajengking, kemudian berteriak-teriak. Pak Arjo mendekat. Setelah diusap dengan tangan, hilang sakitnya. Selanjutnya ada orang lain yang sakit, dapat disembuhkan pula. Lama kelamaan, banyak orang sakit berdatangan ketempat ini. Semuanya dapat disembuhkan. Karena itu kemudian tersebar berita bahwa ada dukun baru di kampung Koplakan Pare.

free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 13)

Tempat turunnya wahyu.

Kampung Koplakan.
Pada tahun 1952 (turunnya wahyu), kampung Koplakan telah terkenal sebagai tempat kumuh, tempat mangkal para preman yang melakukan berbagai kejahatan. Bila ada pencopet atau pencuri yang ketahuan dan kemudian dikejar orang, arah larinya pasti ke Koplakan. Kalau sudah sampai disana, bersembunyi, dan tak bisa ditemukan, karena disembunyikan oleh orang-orang disana. Dikampung Koplakan ini pula tempat orang melakukan permainan Ni Diwud (Jaelangkung), minum minuman keras, bermabuk-mabukan, orang berjudi dan sebagainya.. Karena itu, penduduk kecamatan Pare menjauhi kampung Koplakan ini , khawatir bila nanti terbawa oleh kelakuan para penghuni disitu.

free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Rabu, 12 Agustus 2009

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 12)

Lanjutan peristiwa kedatangan wahyu

Pagi itu, diliputi rasa takut yang amat sangat, Pak Arjo segera pergi kerumah Pak Kemi, dengan tujuan akan menceriterakan kejadian yang telah dialaminya, mungkin Pak Kemi dapat memberi penjelasan tentang hal ini, sebab Pak Kemi memiliki pengetahuan luas karena sudah pernah berguru empat puluh kali. Harapannya Pak Kemi dapat menerangkan kejadian ini.
Sesampainya dirumah Pak Kemi, bertemu Pak Kemi sendiri. Belum sampai selesai bercerita tentang kejadian semalam, tubuh Pak Kemi tiba-tiba bergerak melakukan sujud menghadap ke Timur, dan mengucapkan kata-kata seperti yang terjadi dengan Pak Arjo semalam.
Merasakan gerakan disertai getaran yang demikian dahsyat, Pak Kemi tak dapat berkomentar apapun. Kaget dan takjub disertai rasa takut. Setelah istirahat beberapa saat, baru dapat saling berbicara. Kemudian Pak Arjo melanjutkan ceritera tentang apa yang dialaminya semalam. Selanjutnya diambil keputusan untuk bersama mendatangi rumah Pak Joyo Jaimun.
Disana, dirumah Pak Joyo Jaimun, kejadian tersebut terulang kembali. Begitu pula ketika mereka bertiga pergi kerumah pak Soma Giman.
Untuk selanjutnya, keempat orang tersebut sepakat untuk melakukan sujud ini dirumah masing-masing. Hanya Pak Arjo , bila malam telah tiba, tidak berani tidur di rumahnya sendiri., merasa takut bila nanti ada gerakan lagi. Karena itu, Pak Arjo, bila malam telah tiba, berpindah tidur bersama-sama. Terkadang di rumah Pak Kemi, dirumah Pak Joyo Jaimun , Pak Soma Giman atau dirumah Pak Arjo sendiri di kampung Koplakan itu.

free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah

Perjalanan hidup Sri Gutomo (hal 11)

Peristiwa kedatangan wahyu.
Tanggal 26 Desember 1952.
Masih pagi Pak Arjo sudah berada dirumah Pak Kemi di desa Gedang Sewu Pare. Sekitar jam 9.00 pagi, Pak Arjo berkata pada Pak Kemi: “Kakak, aku mau pulang sekarang, akan mendapat pelajaran dari Guru” Mendengar perkataan ini Pak Kemi merasa heran, dalam hati bertanya-tanya “Siapa Gurunya Arjo itu”
- - - - - - - - -
Mohon maaf sebelumnya untuk para pembaca., saya akan menulis saat kejatuhan wahyu, hanya sekedar mengulang ceritera saja, tentu akan banyak kesalahannya, karena tidak turut hadir pada saat kejadian yang sebenarnya. (Umurku baru 9 tahun tatkala itu, dan jaraknya 50 Km dari rumah orang tuaku)
Para saksi, kalau ada yang masih hidup, mohon untuk membetulkan penuturan ini.
- - - - - - - - -
Malam itu (26 Desember 1952) Pak Arjo sedang duduk bersender disalah satu tiang pada dinding rumahnya menghadap ke Barat.
Tak ada yang mengetahui awal mulanya, sekitar jam satu malam, tiba-tiba kedua lengan tangan seolah dipaksa bersikap sedakep, tangan kanan menutupi tangan kiri, begitu pula kedua kaki dipaksa bersila dengan kaki kanan menutupi kaki kiri.
Selanjutnya badan diputar menghadap kearah Timur. Kemudian mulut mengucapkan kalimat :”Allah Hyang Moho Agung, Allah Hyang Moho Rochim, Alah Hyang Moho Adil, Allah Hyang Moho Wasesa, Allah Hyang Moho Langgeng". Kata-kata ini diucapkan dengan keras, spontan dan tak dapat ditahan-tahan.
Setelah selesai, tubuh Pak Arjo menunduk kebawah sampai kening dan hidung menempel dilantai (sujud). Sujud ini berlangsung tiga kali. Sujud pertama, ketika kening dan hidung menempel dilantai, mulutnya mengucapkan “Hyang Moho Suci sujud Hyang Moho Kuwoso” Kalimat itu diulang tiga kali.
Sujud kedua, seperti diatas dengan ucapan “Kesalahane Hyang Moho Suci nyuwun ngapuro Hyang Moho Kuwoso” Juga diulang tiga kali.
Sujud ketiga, ucapan “Hyang Moho Suci Mertobat Hyang Moho Kuwoso”. Ucapan ini diulang tiga kali pula.
Gerak sujud ini tak dapat ditahan atau dibatalkan. Padahal berlangsung mulai sekitar jam satu tengah malam sampai dengan pukul 3.30 pagi, (ayam jago berkokok pagi hari). Setiap kali gerak sujud ini diulang kembali mulai dari awal. Tak dapat dihentikan. Pak Arjo dipaksa melakukannya sampai sangat kepayahan.

free counters
Catatan: blog ini disertakan label :
Sri , Gutomo, Pawenang, Arjo, Sopuro, Harjosapuro, Suwartini, Hyang, Maha, Kuwasa, Widhi, Sapta, Darma, Kerohanian , warga , wahyu , budi , luhur , sujud , wewarah